Jumat, 18 Desember 2020

Mendedah Partisipasi Perempuan di Ruang Publik

Dari waktu ke waktu, partisipasi kaum perempuan di ruang publik dalam upaya ikutserta dalam agenda perubahan layak diapresiasi. Kini jabatan strategis di berbagai lembaga pemerintahan ataupun non pemerintah diisi perempuan. Untuk itu, arah juang perempuan milenial ikut berjihad dalam upaya mencerdaskan dan memuliakan kehidupan masyarakat selalu ditunggu di ruang publik .

Cover buku yang ditulis Anisa

Anisa, salah seorang penulis muda dan mahasiswi jurusan Perbandingan Madzab dan Hukum di UIN Bandung menulis buku tentang Jihad Perempuan Milenial : Makna Jihad bagi Perempuan.  Buku setebal 198 halaman ini, menyoal mengenai jihad, dalam upaya menegakkan semangat perdamaian dan proyeksi kebaikan yang kudu diperankan kaum perempuan.

Pembukaan buku ini, ditegaskan pentingnya perempuan. Mengutip sebuah penelitian bahwa ternyata 24% meningkatnya kemungkinan kekerasan akan berhenti jika perempuan terlibat dalam proses perdamaian. Dan 35% kesempakatan damai akan awet setidaknya 15 tahun selama perempuan dilibatkan. (hlm. 5 )

Mengutip Karl Mannheim, Anisa menguraikan penamaan generasi milenial, untuk menyebutkan generasi Y, yang dilahirkan pada 1980 – 1997. Buku ini memperjelas perihal generasi manusia berdasarkan tahun kelahiran. Meski berbeda tahun kelahiran, masing-masing generasi mencoba untuk saling terhubung dan tetap mempengaruhi sesuai dengan tantangan zaman yang dihadapi. (hlm. 7).

Diterbitkan pada 2018, oleh Yayasan Cinta Indonesia, buku ini memiliki relevansi sesuai semangat zaman dan bisa dijadikan petunjuk dalam mengambil sikap dengan aneka persoalan yang harus dihadapi perempuan milenial.

Anisa menyebut jika perempuan serupa remote control yang ikut memberikan warna bagi perjalanan sebuah negara. Setidaknya, dalam bab Politik Identitas Perempuan Milenial, penulis menyoroti betapa pergerakan perempuan milenial tidak sekadar terbentuk berdasarkan usia, namun juga berupa adanya kesamaan hobi dan gelar. Kemudian, mereka membentuk identitas.

Setidaknya, semangat melepaskan identitas kesukuan yang lebih primordial bisa diarahkan melalui kesamaan mengarah pada hobi, kesamaan profesi dan jejaring keilmuwan dan ini berubah menjadi komunitas baru yang  tidak lagi primordial. Hadirnya komunitas ini, berpotensi dimanfaatkan untuk tujuan penggalangan massa. Munculnya komunitas dan identitas baru ini juga dijadikan lahan untuk para politikus untuk memobilisasi dengan isu identitas. (hlm. 28)

Dengan demikian, aneka gerakan emak-emak di ruang publik, yang juga ikut kritis terkait kebijakan pemerintah adalah potensi yang dimiliki kaum perempuan milenial. Meski, penulis memberikan gambaran tentannya, kaum milenial untuk dipengaruhi dan dipolitisir oleh kepentingan dengan isu identitas. (hlm. 39).

Penulis yang juga anggota dari Bandung School of Peace ini menekankan agar komunitas dari emak atau ibu-ibu milenial juga tidak terjebak pada upaya dipolitisir demi tujuan sebuah kelompok tertentu, yang nantinya merugikan banyak orang. (hlm. 42).

Buku ini dikemas dengan kreatif. Penulis menyajikan untuk pembaca agar tidak bosan dengan suguhan berupa kutipan tulisan pendek-pendek sehingga pembaca mampu mencerna setiap inti gagasan dan pesan yang disampaikan.

Tulisan pendek-pendek di tiap halaman dengan font yang lebih besar disertai warna warni serta dibentuk serupa membaca tampilan slide akan pembaca temukan. Dan berikutnya, penulis memperkaya uraian dengan data kajian pustaka dengan font yang lebih kecil. Membuat buku ini sangat menarik dan mudah untuk dipahami.

Di bab kedua, Perempuan milenial : iman dan modernitas diuraikan perihal tantangan kemajuan jaman juga mudah menjebak dan menjerumuskan. Anisa menuliskan sejumlah nasihat agar dipahami oleh perempuan milenial. Bahkan, ia mengutip ucapan Ali Bin Abi Thalib untuk mengingatkan orang tua, terutama ibu, agar mendidik anak-anak mereka sesuai dengan semangat zamannya karna anak-anak itu akan menghadapi zaman yang berbeda dengan apa yang dilewati oleh orang tua mereka. (hlm. 55).

Di bab tiga, Jihad : dari makna hingga praktik keseharian menyuguhkan pemahaman perihal jihad. Selama ini, tulis Anisa, persepsi masyarakat dari Muslim hingga non muslim saat mendengar jihad identik dengan perang, terorisme, membunuh orang kafir hingga bom bunuh diri. (hlm. 60)

Melalui buku ini, Anisa menegaskan bahwa penggunaan kata jihad seringkali disalahpahami dan bertabrakan dengan nilai-nilai islam, yang penuh cinta dan nilai perdamaian. Dengan mengutip pendapat sejumlah ulama, ia membingkai pengertian jihad agar dipraktikkan sebagai iktiar menuju hablumminallah wa hablumminnnas agar menunjukkan wajah islam yang rahmatal lil alamin. (hlm. 84)

Di bab empat, Medan Jihad : perempuan milenial penulis menyinggung arah juang yang mesti dijaga kaum perempuan. Menurutnya, medan jihad setiap orang adalah dirinya sendiri, realitas dimana ia berada, dan dalam peran apa ia dibutuhkan, ketiga hal itu harus dilakukan untuk meraih ridha Allah Swt. (hlm. 96).

Ia memetakan jika medan jihad bagi perempuan meliputi keluarga, sebagai istri, sosial dan media sosial, karir dan ekonomi. Jihad seorang ibu rumah tangga dimulai ketika memiliki buah hati dan meluangkan waktu untuk hal-hal kreatif dan produktif, kegiatan yang layak diperjuangkan sebagai jihad. (hlm. 112).

Bab lima, Anisa menulis perihal Hijrah : fenomena radikalisme perempuan milenial. Fenomena hijrah merupakan tren yang mudah dijumpai diberbagai wilayah di negeri ini. Terlebih, dengan adanya gawai yang memudahkan mengakses aneka informasi perihal komunitas hijrah di lingkungan sosial serta di media sosial. (hlm. 127).

Anisa menjabarkan fenomena hijrah ini, dengan mengutip berbagai sumber referensi serta perubahan cara berpikir dan bersikap yang terlihat pada setiap individu yang bergabung dengan komunitas hijrah ini. Buku ini mendedah agar perempuan milenial juga memahami perihal hijrah, yang dulu dimulai dengan pergerakan fisik demi tujuan mulia, yaitu hijrah Nabi dari tanah Mekkah ke Madinah. Anisa menyoroti perubahan-perubahan yang menarik dipahami pembaca, yaitu terkait komunitas hijrah yang membentuk cara berpikir dan penampilan anggota-anggotanya.

Di bab terakhir, Perempuan Milenial : penebar  perdamaian penulis menyebutkan hal mendasar terkait potensi perempuan yang memiliki dampak signifikan.

“Maka perempuan sebagai salah satu unsur warga dunia, harus dapat menempatkan diri dalam arus globalisasi ini,” (hlm. 155), tulis Anisa untuk menggambarkan jika perempuan milenial adalah sosok yang memiliki peran tidak sekadar di ruang keluarga, tapi juga berjejaring dengan warga dunia lainnya.

Dengan membaca buku ini, pembaca bisa melihat potensi  perempuan sebagai pilar keadaban umat. Perempuan adalah pilar yang mampu menguatkan narasi keumatan. Maka, tidak boleh dilupakan, betapa besarnya peran dan pengaruh perempuan bagi perjalanan manusia itu. Selamat membaca !

 

Data Buku

Judul : Jihad Perempuan Milenial : Makna Jihad bagi Perempuan

Penulis : Anisa

Penerbit : Yayasan Islam Cinta Indonesia

Cetakan : November 2018

Jumlah halaman : 198

Peresensi : Fendi Chovi


Tulisan ini dimuat di Harian Pagi Kabar Madura, pada 2019

 


Senin, 14 Desember 2020

Refleksi Para Pemuda di Kota Santri & Kota Intoleransi

Saat membaca buku berjudul Kota Santri, Kota In(toleransi) karya Reflektif Terpilih Anak Muda Lintas Iman.

Saya sedikit penasaran, kenapa ada frase kota santri disandingkan dengan kota intoleransi.  Apa yang dibahas dan digagas dibuku ini?

Sebenarnya, apa yang salah dari kota santri ini, sehingga ditulis dan diberi label sebagai daerah yang kurang aman, serta tidak ramah bagi penganut agama dengan keyakinan yang berbeda dengan penamaan kota In(toleransi).

Inilah refleksi pengalaman dan pemikiran sejumlah anak muda yang dituangkan dalam sebuah buku. Hasil tulisan dari para peserta yang mengikuti Interfaith Youth Camp oleh GKI Klassis Bojonegoro dan Gusdurian Jombang. 

Sayangnya, buku ini dicetak terbatas dan belum dijual di toko-toko buku. Uniknya, buku ini juga tidak disertai dengan tahun penerbitan dan nama penerbit. Namun, pembaca disuguhkan daftar isi dan judul tulisan disertai dengan nama-nama penulisnya. 

Nama-nama penulis buku ini adalah anak-anak muda berasal dari berbagai daerah dan institusi pendidikan. Tentu mereka adalah anak-anak muda yang mempuni, potensial dan layak diperhatikan.


Cover buku peserta Interfaith Youth Camp




Daftar Isi Buku

Seperti disampaikan Aan Anshori, salah seorang pemantik dalam acara ini dan sekaligus tulisannya menjadi pembuka dalam buku ini dengan judul Menjemput Keabadian.

Aan, begitu pria ini kerapkali disebut dan dipanggil teman-temannya, merupakan penggerak diskusi lintas iman yang cukup militan dan dikenal luas di Jawa Timur. 

Dia mengajak anak-anak muda, duduk dalam satu forum lalu memberi wawasan perihal keragaman dan isu-isu intoleransi yang kerapkali mencuat di berbagai daerah dan seringkali mencabik - cabik makna keragaman bangsa atas nama agama.

Judul - judul yang dipilih dalam buku ini menggambarkan, jika dia lebih percaya bahwa pengalaman yang ditulis nantinya bisa menjadi sumber terdasyat untuk membentuk peradaban manusia.

Maka, inilah sebabnya para peserta diminta menuliskan pengalaman - pengalaman itu lalu dijadikan buku antologi bersama.

Membaca judul-judul tulisan di buku ini kita bisa bercermin sejenak, melihat potensi konflik dan hal-hal lain tentang diri kita sendiri di tengah komunitas masyarakat beragam yang berbeda-beda di negeri ini.


Aan berharap agar semua peserta menulis kisah itu dan dipastikan mereka akan abadi dengan tulisannya itu. Selaras dengan apa yang dia kutip dari komentar sosok bernama Pramoedya Ananta Toer,  Menulis adalah kerja keabadian 

Di buku ini, terdapat tulisan yang menggugah dalam bentuk refleksi, yakni pengakuan salah satu peserta dalam acara ini yang awalnya khawatir bila agenda ini hanya debat teologis yang monoton dan faktanya ternyata di luar dugaannya. 

Setidaknya, Kemah Perdamaian yang diikutinya ini lebih pada kesempatan membuka cara berpikir baru melihat keragaman budaya dan penganut agama lain dengan kepercayaan berbeda yang hidup di sekitar kita.

Menariknya lagi, para peserta dibekali pengetahuan tambahan, yakni menikmati tour ke beberapa komunitas keagamaan yang ada di Jombang.


Pertemuan para pemuda dengan keyakinan berbeda ini tentu layak diapresiasi. Terlebih, mereka berani untuk duduk bersama dan tinggal bersama meski durasinya agak singkat tanpa memandang sekat-sekat yang selama ini agak tabu dibicarakan, yaitu agama yang berbeda.


Pertemuan itu tentu saja, hanya akan berakhir di forum-forum diskusi semata. Andai mereka tak menuliskannya dan mencetaknya menjadi sebuah buku. Benar kata Aan Anshori, mereka akan abadi dengan tulisannya.

Sayangnya, buku itu dicetak terbatas. Dan kamu yang penasaran kenapa buku ini menggandeng frase : Kota Santri, Kota Intoleransi. 

Silakan, Temukan jawabannya dibuku ini. 

Ditulis Fendi Chovi

(Ditulis untuk tanda persahabatan dan renungan)





 


 


Kamis, 03 September 2020

Sepotong Kisah Move dari Mantan

BERSAMA seorang teman, aku menikmati suasana sore hari di Kancakona Kopi. Sebuah kedai kopi yang homy dan memiliki kesan tersendiri untuk dijadikan tempat nongkrong di pinggiran kota Sumenep.

Cover Buku Cinta Segenggam Pasir


Sore itu kami benar-benar menikmati aneka obrolan menarik. Duduk bersama. Mendiskusikan banyak hal, terutama tentang cita-cita yang kami miliki. Sebagai anak muda, diskusi kami berkaitan erat dengan hak –hak atas hidup yang harus kami dapatkan serta kewajiban yang harus kami penuhi.

Teman itu menyampaikan jika tantangan hidup saat ini benar-benar membutuhkan kreatifitas dan perjuangan, terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari makan minum, tiket liburan dan tuntutan untuk hidup lebih layak.

Dengan gambaran hidup seperti itu, kita juga memerlukan motifasi tak tertulis untuk terus berpikiran maju ke depan.

“Kira-kira apa motifasi kamu untuk hidup lebih sukses dan rencana – rencanamu terwujudkan?” Tanya teman itu kepadaku.

“Mantan dan kenangan, “ jawabku.

Kami tertawa seketika.

“Ngga, bercanda ya,” kataku kepadanya.

“Tapi, tidak sedikit juga sih, dunia ini dihiasi pribadi-pribadi sukses karena mantan,” ujarnya kepadaku.

“Iya, aku juga memiliki sederet teman dengan kisah kesuksesan gegara mantan dan aku seringkali menjadi juru penasihatnya. Ha ha ha … “

Sejujurnya, aku kerapkali mengira memiliki mantan pacar dan kenangan itu merupakan hal buruk dan menyiksa batin untuk diingat. Namun, ternyata tidak sedikit orang yang sukses karena termotifasi oleh mantan kekasihnya.

Kepada teman ngobrol itu, aku berbagi cerita jika pernah memiliki seorang teman yang nyaris hidupnya berantakan dan hancur gara-gara putus dari pacarnya. Perempuan itu benar-benar menjadi harapannya dan bayangan ideal untuk membangun ikatan keluarga. Sebagai lelaki, dia berusaha agar bisa mewujudkan itu bersama-sama. Setelah mengarungi bahtera hubungan kasih sayang selama berbulan-bulan dan hati keduanya benar-benar saling menyayangi, ujian datang.

Dia ditunangkan atas permintaan ibu dan neneknya. Dia bilang tidak akan menolak permintaan ibunya sebagai wujud takzim kepada orang tua, walaupun dia beralibi jika hal itu karena terpaksa.

Temanku tentu heran sendiri. Menurutnya, pacarnya melanggar janji dan kesepakatan yang telah dibuatnya. Temanku itu juga tidak bisa mencegahnya, banyak alasan yang bisa disampaikan. Tapi, pertunangan itu dan pernikahan yang sebentar lagi akan berlangsung rasanya begitu menyiksa batinnya.

Kejadian itu benar-benar terasa menyiksa batinnya. Ia mulai menunjukkan perilaku aneh, batinnya butuh diobati dan dipulihkan.

Sebagai teman, aku mendatangi kosnya dan berbagi banyak dengannya. Aku mengingat pernah membaca buku “kitab cinta dan patah hati yang ditulis sinta yudisia, seorang penulis dari surabaya. Aku menemukan narasi yang bisa mewakili bagaimana jika seseorang terlanjur sakit hati karena putus cinta di buku itu.

“Teman dan waktu termasuk elemen penyembuh. Namun, tak selamanya. Yang mampu menyembuhkan sebuah penyakit adalah tuhan dan diri sendiri,” tulis sinta yudisia di bukunya. Penjelasan itu tersaji di halaman 108 dan memberi gambaran jika kita kadung sakit hati, untuk menyembuhkan luka batin itu hanya ada pada diri kita sendiri dan tuhan.

Aku memahami jika temanku yang lagi patah hati itu benar-benar butuh teman berbicara yang mengerti tentang apa yang telah terjadi pada dirinya. Aku mengingatkan, jika manusia sebagai hamba tinggal berdoa kepada allah swt. Agar memberikan jalan keluar dan hatinya dilapangkan untuk menerima kenyataan itu, dan semoga diberikan lingkaran pertemanan yang menguatkan batin bukan menjerumuskan pada cibiran yang merendahkan.

Tapi, yang terpenting adalah diri kita sendiri yang harus disadarkan untuk tidak bisa move on dan benar-benar siap melupakan dan memaafkan apa yang telah terjadi. Coba, buat apa kita  masih memikirkan hal yang sudah terlewati. Lebih baik fokus pada apa yang bisa dinikmati dan dijadikan semua yang sudah terjadi sebagai pembelajaran hidup.

Jadi, aku menyarankan kepada dia untuk tidak menempatkan mantan sebagai penghambat untuk maju. Tempatkanlah mantan sebagai motifasi tidak tertulis untuk kian meneguhkan perjalanan kesuksesan dalam hidup.

Setidaknya, mantan pacarnya itu dan kenangan demi kenangan yang pernah dilewati bersama pelan-pelan bisa dia lupakan. Saranku cukup sederhana tapi kudu dipraktikkan agar menjadi pembeda untuk bisa move on.

“Buatlah dia menyesal telah menjadi tidak serius ikut memperjuangkan cinta yang pernah kamu jalani bersama,” pintaku.

Cinta itu dilahirkan bukan semata-mata untuk mengenang sosok yang telah pergi, tapi juga mulai menghargai untuk hidup dengan yang datang menyayangi diri kita. Cinta itu dihadirkan untuk mengenang hal-hal terbaik yang kita miliki bersama pasangan tercinta yang setia berjalan bersama dalam suka duka.

Teman ngobrol itu tersenyum dan dia berkata padaku, “ seperti itulah yang seharusnya dimiliki para lelaki. Dilarang lebay dan menjual narasi mencintai yang tidak mendidik.”

Sejujurnya, cara terbaik untuk move on dari patah hati dan menjalin hubungan asmara dengan seseorang seharusnya dimulai dengan mindset baru untuk memulai hidup yang lebih asyik dan lebih sukses.

Hari ini bukan lagi jamannya ketika orang patah hati lalu bunuh diri dan stress. Hari ini adalah jaman aktualisasi diri dan memperbaiki kehidupan yang kita miliki. Ingatlah bahwa tuhan mempercayakan waktu yang kita miliki untuk dihargai sebagai proses penghambaan kepada-nya.

Waktu yang kita miliki harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Ketika kita terjebak dengan cara berpikir yang salah tentang asmara, maka kita akan mudah terjerumus pada definisi mencintai yang mencemaskan untuk dikenang dan diingat.

Teman ngobrolku itu bertanya,”apa yang akan kamu lakukan jika masih ingat mantan?”

“Mengingatnya, dan berjanji kepada diriku sendiri jika dia melihatku suatu hari nanti, dia melihatku sebagai lelaki yang lebih sukses daripada saat bersamanya,” ujarku.

Dia tersenyum dengan jawabanku itu.


Fendi Chovi, (Ditulis untuk Antologi Buku)

Cerita ini dimuat dalam antologi buku Cinta dan Segenggam Pasir : Antologi Kisah seru seputar Move on dan Patah Hati 32 penulis FLP Jawa Timur  tahun 2019


Jumat, 13 Oktober 2017

Berbeda dan Berada di Ruang dan Waktu yang Sama, Apa yang Kau Lakukan?

Reportase Fendi Chovi
Blogger/tinggal di Dungkek, Sumenep


SEJUMLAH perwakilan komunitas dan organisasi daerah mengikuti training Penggerak Perdamaian dan Keragaman Berbasis Komunitas, di Klenteng Hong San Kiong, Gudo, Jombang, Selasa-Jumat (11-14/7/2017).

Diinisiasi Gusdurian, Jombang, Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), dan Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI). Kegiatan ini memberikan kesempatan anak-anak muda mempelajari dan menyelami isu-isu tentang keragaman dan radikalisme.

Di awal sesi, Aan Anshori, fasilitator dari JIAD, menyinggung keterlibatan pemuda menjadi bagian dalam gerakan perdamaian dan menolak radikalisme serta memperkaya materi dengan diskusi kelompok, lalu mempresentasikannya.

 
Bersama Peserta Terpilih Training Penggerak Perdamaian dan Keragaman
di Klenteng, Hong San Kiong, Gudo, Jombang

Penrad Siagian dari PGI, fokus membahas analisis sosial menyangkut radikalisme dan sumber pemicu lahirnya radikalisme dalam agama.

"Kita harus mampu memetakan persoalan radikalisme dengan memanfaatkan analisis SWOT, sebagai agen komunitas perdamaian yang peduli dengan isu keragaman dan kebhinnekaan," tuturnya.

Ia menyinggung peran pemuda harus lebih signifikan terutama dalam memahami gejala-gejala sosial dan melihat faktor-faktor terjadinya radikalisme berbasis agama.

Dilanjutkan Amin Siahan, peserta harusnya terlibat dalam diskusi soal memenangkan kampanye perdamaian melalui penggunaan media sosial untuk menggalang dan menjaring komunitas perdamaian di setiap daerah.

Upaya memahami intoleransi dikemukakan Roro Wahyuningtyas. Ia memberikan tabel untuk mengukur kadar intoleransi keluarga dan komunitas. Tak hanya itu, upaya menggerakkan anak-anak muda terlibat aktif sebagai penggerak perdamaian dikemas dengan forum group discussion untuk membuat proyek agenda kegiatan berkelanjutan.

Peserta juga menikmati sesi field trip ke rumah ibadah dan komunitas keagamaan, menziarahi makam KH Abdurahman Wahid, ke Tebuireng, berdialog di Gereja Kristen Jawa Wetan Mojowarno, serta Pura Amarta Bhuana, Ngepeh, Jombang.

Lewat kunjungan diharapkan para anak muda lebih intensif berdiskusi serta berdialog dengan para pemeluk agama lain dan mendengarkan cerita penuh perjuangan dari komunitas keagamaan yang terdiskriminasi dan memperjuangkan hak-hak mereka sebagai warga negara.

Tak hanya itu, peserta juga berkesempatan merasakan live in, berupa tinggal bersama dengan warga setempat yang berbeda keyakinan. Peserta muslim di tempatkan di rumah warga non muslim. Sebaliknya, peserta non muslim tinggal di rumah warga muslim.

Ke depan, peserta juga terlibat dalam penulisan buku seputar pengalaman mereka berdiskusi dan berdialog yang didapatkan selama acara serta menjaring komunitas daerah agar berkolaborasi dalam agenda dialog antar iman. Keren kan?

Senin, 10 Juli 2017

Suatu hari bersama Aan Anshori

 


SAAT tiba di Klenteng Hong San Kiong, di Gudo, Jombang pada acara "Training Penggerak Perdamaian dan Keragaman Berbasis Komunitas"  yang akan berlangsung selama tiga hari.

Peserta yang datang baru dua orang. Aku termasuk peserta kedua yang menginjakkan kaki di Klenteng (yang katanya telah) berusia ratusan tahun ini.

Di sana, aku berjumpa dengan Aan Anshori, salah satu fasilitator dalam kegiatan ini. Kami ngobrol bertiga sambil menunggu peserta lain datang. Topik yang kami bicarakan mengenai internet.

"Kamu suka nulis, kan?" tanya Aan Anshori.

"Soalnya, aku sempat menemukan beberapa tulisanmu dan namamu di internet," tuturnya kepadaku.

Aku sangat senang dan tersenyum mendengar ada orang menemukan tulisanku di internet. Telingaku seolah melebar sedikit sebagai ekpresi rasa bahagia.

Percakapan dengan Aan dilanjutkan saat kami sama-sama berjalan kaki menuju ke salah satu rumah pendeta yang tidak jauh dari Klenteng untuk acara wellcome Dinner dan ramah tamah.

Aku berjalan di samping Aan. Kami ngobrol kembali. Di sela-sela obrolan itu, Aan menyisipkan sepotong kalimat motivasi tentang manfaat kebiasaan menulis.

"Menulislah karena itu sangatlah penting sebagai sarana untuk aktualisasi diri, pas upload ke internet," ujarnya.

Aan menegaskan bahwa kebiasaan menulis itu menjadikan diri kita mudah untuk saling terkoneksi satu sama lain, terutama anak-anak muda yang juga menyukai budaya literasi ini.

"Saat kita memiliki gagasan yang sangat berharga dan itu penting untuk diketahui publik. Tulislah !" Ujarnya, sambil berjalan.

"Dan ini perlu diingat, saat nama belakangmu tidak membawa sosok nama besar, seperti Wahid, maka menulislah!" kata Aan.

Siapa itu Wahid? Yaitu nama belakang Kyai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Nasihat yang diungkapkan Aan Anshori itu, sebenarnya juga ditegaskan oleh Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali.

"Jika kamu tidak terlahir sebagai putera seorang raja atau ulama. Maka menulislah!"

Iya, kan?

Jombang, 11 Juli 2017

 

Senin, 16 Januari 2017

Beginilah Sosok Gus Dur di Mata Hisanori Kato, Profesor asal Jepang


PROFESOR Hisanori Kato, dari Chuo University Jepang, menegaskan, bahwa negeri sebesar Indonesia sebenarnya sangat berutang budi kepada (almarhum) KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Itu diutarakan saat ngobrol pintar atau ngopi di Griya Gusdurian, Gendeng, Yogyakarta, Sabtu (31/12/2016).

Di hadapan ratusan anak-anak Gusdurian, Kato menuturkan kisah-kisah pertemuannya dengan Gus Dur. Penulis buku Islam di Mata Jepang tersebut juga memaparkan pandangannya mengenai Islam menurut persepsi orang Jepang.

Pengalaman tinggal di Indonesia selama tiga tahun dan berinteraksi dengan tokoh-tokoh muslim Indonesia, membuat Kato memiliki penilaian khusus terhadap Gus Dur, dari pemikiran hingga sepak terjangnya, selama hidup layak dikaji dan dihidupkan kembali serta diteladani para generasi muda.

Saat bertemu Gus Dur, Kato tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap mantan Presiden RI ke 4 tersebut.

"Gus Dur itu sosok bijak dan tidak sombong. Sangat menghargai siapapun. Sulit menemukan sosok seperti Gus Dur," pujinya.

"Meski hari ini Gus Dur tidak lagi bersama kita secara fisik. Namun, soal pemikiran dan sepak terjang beliau dalam membumikan Islam damai senantiasa hadir di masyarakat Indonesia. Tentu saja, Gus Dur pasti akan senang bila menyaksikannya," ungkap Kato.

Menurutnya, kehadiran Gus Dur bukan semata-mata pemberi oase di dalam memaknai Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi kebersamaan dan perdamaian. Namun, juga sebagai sikap untuk memuliakan sesama.

"Gus Dur sangat menghargai siapapun, dari kelompok manapun, tanpa melihat suku, bahasa maupun agama," nilai Kato.

Tentu, sikap Gus Dur seperti itu sangatlah dibutuhkan bila melihat keberagaman Indonesia saat ini, tegasnya.
Secara khusus, Kato menyatakan kekagumannya terhadap Indonesia dan pengalamannya tinggal di Indonesia dituliskan di dalam buku Kangen Indonesia : Indonesia di Mata Orang Jepang.

Menurutnya, Islam di Indonesia itu seharusnya membawa pesan damai. Pemikiran seperti itu ditunjukkan Gus Dur kepada siapapun.

"Sehingga, saya merasa bersedih saat mendengarkan Gus Dur tiada," kisah Kato.
Kekaguman kato terhadap Gus Dur tidak semata atas pola sikapnya yang santun. Namun, juga tentang kemampuan daya nalarnya.

"Saya dibuat kagum saat mendengarkan Gus Dur mampu menghafal banyak nomor telepon di luar kepala. Setelah bertemu, ternyata kemampuan itu benar-benar dimilikinya," ungkapnya.

Di akhir acara yang sekaligus bertepatan dengan momentum perayaan haul ketujuh Gus Dur, Kato tak memungkiri bila anak-anak muda perlu mengkaji nilai-nilai keagamaan, terutama yang diperkenalkan Gus Dur di Indonesia.

Bagi Kato, Indonesia itu penuh keberagaman suku, agama dan budaya serta menjadi negeri yang indah dan perlu dijaga oleh generasi muda. Siapkah kalian menjaga Indonesia?

# Reportase Fendi Chovi
    Dimuat di Tribunnews Grup

Begini Cara Mudah Menulis Esai ala Muhidin M Dahlan


SEJUMLAH anak muda hadir menikmati peluncuran buku, pembacaan karya, diskusi, serta pameran buku indie, dengan deretan buku-buku terpajang rapi sekaligus memanjakan mata para pengunjung di Jual Buku Sastra (JBS), Yogyakarta, Jumat (30/12/2016).

Muhidin M Dahlan, pegiat literasi sekaligus pendiri Radio Buku di Yogyakarta berbagi pengalaman tentang prinsip dasar seputar penulisan esai.

Menurut lelaki yang malang melintang di jagad literasi tersebut, menulis esai seharusnya dilakukan mirip seperti menulis status di media sosial. 

"Coba perhatikan hal-hal sederhana di samping, kanan, kiri, lingkungan kita. Temukan sesuatu yang unik. Bisa benda-benda tak bernyawa ataupun bernyawa, lalu belajarlah mengomentari benda-benda tersebut," tuturnya kepada peserta.

Lanjut Muhidin, bila benda-benda tersebut dikomentari dengan penghayatan sekaligus kepekaan artistik disertai kejujuran untuk menuliskannya, maka hasilnya pasti luar biasa. Tak tertebak dan dipastikan menarik minat publik.

"Bila benda-benda tersebut dituliskan, jangan lupa disertai foto dan share ke media sosial dan lakukan secara rutin. Lama-lama, ide-ide kalian akan terbaca publik dan akan mendatangkan para pembaca," ujarnya.

Menurutnya, menulis esai semacam itu tidak salah. Sebab, banyak tipe menulis esai.

Muhidin menambahkan, bila menulis esai usahakan untuk melahirkan gagasan agar mampu memancing reaksi publik.

"Tulislah apa saja. Sebagai tahap menemukan pembaca kalian. Bisa saja belajar berkomentar dengan membuat tip tertentu. Susunlah gagasan dalam bentuk kronologis kejadian dan peristiwa semenarik mungkin," tegasnya.

Menurut Muhidin, tak ada cara terbaik dalam menulis kecuali rajin membaca, rajin menulis, latihan secara rutin dengan tujuan mencapai kematangan dalam mengemas gagasan.

Muhidin menyinggung sekilas pengertian esai berdasarkan buku yang ditulisnya, Inilah Esai : Tangkas Menulis Bersama Pesohor.

"Di buku tersebut, saya mengutip pendapat bapak esai Michel de Montaigne (1533_1592), saat menerbitkan esai pertamanya di abad ke 15. Di luar definisi itu, saya sepakat bila esai adalah suatu gaya menulis yang bukan-bukan," sebut Muhidin sekaligus menegaskan bila pernyataan tersebut terinspirasi dari Cak Nun dan celotehan Gus Dur.

"Esai disebut tulisan yang bukan-bukan, bila mengutip Mointaigne, yaitu semacam ekspresi bahwa esai adalah cerminan, meditasi, dan percobaan yang diekpresikan secara licin dengan bahasa yang lentur," ungkapnya.

Di buku itu, imbuhnya, sejumlah tokoh dan esais-esais terkemuka, mendapat ruang untuk menjelaskan tentang pendefinisian apa itu esai. "Maka, tak ada salahnya bila apa yang saya sampaikan dipraktikkan secara rutin," pinta Muhidin kepada peserta.

Bila demikian adanya, lanjut Muhidin, mari menulis esai dengan topik dan bahasan yang disukai, buatlah esai seperti kalian menulis status di media sosial. Share ke publik dan temukan pembaca kalian.

Tulisan ini dimuat di Tribunnews.com atau di Harian Surya Jawa Timur link tulisan dibaca di sini