Minggu, 19 Februari 2017

Ketika Anak Desa Ketagihan Nge-Blog

Saat itu aku hanya bisa tersenyum dengan rasa iri membuncah di dada ketika melihat teman-teman seperjuanganku pada kuliah lagi. Mereka seperti menjelma sosok berprestasi dan kelihatan semakin keren ke depannya. 

Di Facebook dan Instagram, mereka berbagi berbagai foto. Mereka terlihat sedang selfie di depan sebuah universitas bergengsi di luar negeri. Mereka juga dengan rutin membagikan foto ketika menikmati perjalanan melintasi banyak kota dengan keragaman, suku, budaya, serta bahasa di berbagai pelosok daerah di negeri ini.

Sedangkan aku, ah!

Aku mengalami kegetiran hidup luar biasa sehabis kecelakaan dan saat itu memutuskan resign bekerja selama-lamanya dari dunia jurnalistik. Entah, aku seperti dipaksa mengubah seluruh rute perjalanan hidupku ke arah berlawanan dari biasanya.

Duh, tuhan! Aku jadi apa nanti? Nyaliku ciut.

Di desa, aku seperti miris dengan keadaanku sendiri dan jalanku untuk mengembangkan diri dan berkontribusi kepada masyarakat semakin hari terasa kian terjal dan berat.

Apalagi, dengan menyandang gelar sebagai seorang sarjana dan hidup di tengah-tengah masyarakat yang jumlah sarjananya masih bisa dihitung dengan jari-jari tangan, sungguh mental dan keadaanku senantiasa diuji setiap saat.

Kehadiran para sarjana di kampung begitu jelas terlihat dan sangat mencolok. Bila tidak segera membuat aksi nyata, maka para sarjana itu hanya akan menjadi bahan tertawaan orang-orang.

Sarjana kok tidak bisa apa-apa. Ngeri, kan?

Di saat dilanda kebingungan sambil memikirkan rute baru yang harus kumulai lagi, terutama soal pekerjaan, tanpa sengaja aku melihat foto di dinding saat menghadiri acara kopdar blogger di ruangan kamarku. Saat itu, tiba-tiba terbayang juga setumpuk kenangan saat mengisi pelatihan menulis, menghadiri kopdar antar blogger, melihat klipingan tulisan di berbagai media cetak. Alamak !

Kenapa aku tak meneruskan nyaliku sebagai blogger saja? Suara-suara itu mulai berdesakan di dalam diriku dan terus memotivasiku untuk aktif sebagai blogger saja. Mengajakku kembali berkarya dan harus dimulai dari pinggiran desa dan tak perlu iri kepada yang lain, kepada teman-temanku seperti kutulis di awal tulisan ini.

Menulis (baca : nge-blog) bukan perbuatan nista. Jika disikapi dengan bijak, maka bisa menjadi sumbangsih pemikiran untuk banyak orang. Pramoedya Ananta Toer, nama besar di jagad kesusastraan di negeri ini, kembali hadir di telingaku dengan ungkapannya yang seperti ini :

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian"

Aku bertanya kepada diri sendiri, apakah aku siap untuk menekuni aktifitas nge-blog lagi?
Aku mencari jawaban itu sambil membayangkan masa-masa saat aku pernah konsisten menulis selama berbulan-bulan dan semoga ingatan itu membangkitkan seleraku menulis kembali.

Akhirnya, kubuat keputusan untuk menjalani rutinitas ngeblog dan menjadikannya sebagai pelampiasan hobi sebagai anak desa di Pinggiran Sumenep, Madura.

Saat memutuskan menjadi blogger itulah, aku mulai aktif menulis di blog dan mengulas hal-hal menarik di sekitarku.

Saat itu aku mulai turun ke masyarakat dan mencoba menulis seputar warung tongkrongan anak-anak muda yang dikelola warga setempat. Warung ini cukup dikenal di kecamatan Dungkek, kabupaten Sumenep. Namanya Bherung Toraja.

Di sekitar lokasi Bherung Toraja yang menghadap ke pantai itu, dulu pernah dibuat serial My Life My Adventure, Petualangan si Bolang, oleh salah satu stasiun TV swasta di negeri ini.

Ini tulisan tentang Bherung Toraja
dimuat di Tribunnews.com

Sambil duduk membeli secangkir kopi serta makanan penthol khas warung lesehan ini, aku memberanikan diri untuk menemui pemiliknya dan tanpa kuduga ternyata kami (antara aku dan pemilik warung ini) masih memiliki ikatan kekeluargaan dari garis kakekku. Ahai!

Aku tanyakan awal-awal membangun bherung toraja dan harapan terkait kehadiran warung tersebut untuk warga sekitar. Setelah data terasa cukup, aku mulai menuliskan panjang lebar di blogku dan kucoba juga mengirimkan tulisanku itu ke Surabaya.tribunnews.com

Tidak sampai satu minggu, tulisan karya itu ternyata dimuat. Itulah awal aku kembali menulis setelah menyatakan off dari dunia jurnalistik.

Setelah itu, aku mulai mencari kesempatan menjadi freelance jasa pembuatan artikel. Sungguh aku terbantu dengan layanan internet real mobile 4G LTE (Long Term Evolution) yang dikeluarkan XL.

Di kamar, aku sudah bisa menikmati kegiatan nge-blog dan membagikan berbagai tulisanku berdasarkan pada gambaran realitas kehidupan masyarakat dan potongan-potongan pengalamanku selama di desa.
Di Madura sendiri. Anda tahu? Xl, sebagai operator telekomunikasi seluler cukup dikenal dan cukup menggurita ke desa-desa. Sampai-sampai ada ungkapan berbahasa Madura begini : "Oreng Madhure Ngangguy XL (Artinya : Orang Madura Memakai XL).

Menariknya lagi, ungkapan itu terdapat pada banner berukuran besar dan dipajang di akses jalan-jalan provinsi di empat kabupaten di Madura. Tak jarang, beberapa konter HP dicat dengan lukisan serupa menggunakan label XL tersebut. Kreatif sekali, kan?

Aku sendiri benar-benar terbantu dengan hadirnya layanan LTE ini dan boleh dikatakan sebagai teknologi dengan jaringan terbaru dan masuk pada kategori generasi ke -4. Dengan LTE ini juga, saat menggunakan internet, terasa sekali keunggulan, utamanya kecepatan mengakses datanya.
Dengan memanfaatkan 4G LTE ini, aku semakin asyik saja menulis dan mengerjakannya dari pinggiran alam pedesaan.

Melalui aktivitas menulis itu juga, aku berjumpa dengan banyak momen berbau lokalitas. Aku menulis berbagai tradisi budaya dan seni dan hal-hal menarik lainnya di kampung halamanku. Aku menjadi takjub dibuatnya.  Meskipun dunia sudah agak modern, tapi berbagai tradisi di pedesaan yang cenderung klasik tetap dilestarikan.

Itu sebabnya, moment seperti itu perlu ditulis biar menginspirasi sejumlah kalangan sekaligus bisa dikenal ke berbagai pelosok daerah di negeri ini.

Entahlah, mungkin inilah jawaban lain tuhan untukku, "Dulu aku selalu mendengungkan dan bersemangat menjalankan motto, Think Globally, Act Locally," batinku.
Berpikirlah secara global, bertindaklah secara lokal.

Mungkin semangat itulah, yang diam-diam ikutserta melemparkanku ke kampung halaman dan belajar kembali dari pinggiran desa.

Suatu malam, aku berkunjung ke kediaman K. A Dardiri Zubairi, seorang pengasuh pondok pesantren yang cukup dikenal di kecamatan Gapura, kabupaten Sumenep, Madura.

Kiai ini selain disegani juga menjadi panutan dalam gerakan kebudayaan di Sumenep. Tidak kalah pentingnya lagi, beliau cukup dikenal sebagai sosok blogger dan karya-karyanya sangat keren dan menarik dibaca.
Di kediaman beliau itu, kami sharing-sharing tentang alam lokalitas sekaligus dunia per-bloggeran. Di sela-sela obrolan itu, aku menyempatkan diri bertanya, "Blog kepunyaan panjenengan yang berjudul, rampaknaong.blogspot.com sangat bagus, bapak kiai?"

Boleh diceritakan nih, kayaknya proses menggali tema di blog tersebut sangat menarik dan perlu dibagikan, pintaku kepada beliau.

Anda perlu mengetahui juga, jika K. A Dardiri Zubairi ini sudah menulis buku, judulnya, "Perempuan Madura".

Buku itu berisi sejumlah penggambaran mengenai kearifan lokal Madura dan tulisannya berasal dari postingan yang pernah dimuat di blog pribadinya. Beliau memulainya dari blog dan menjadikannya sebagai rumah menampung gagasan, cerita dan foto-foto di dunia maya atau internet.

Aku berharap, teman-temanku dan diriku juga bisa meniru beliau. Menjadikan aktivitas ngeb-blog sebagai sarana untuk menyuarakan gagasan, berbagi pengalaman, hingga hal yang berat, mendokumentasikan nilai-nilai lokalitas di pedesaan.

Hadirnya, internet itu, seperti dinyatakan Fredric Paul dari Network World, mampu memberikan kita ruang untuk berexpresi, berpendapat serta merdeka di dalam bersikap. Dari internet itulah, kita bisa menabur kebermanfaatan, menyuarakan apa yang terjadi di pinggiran. Blogger yang baik tidak akan tinggal diam melihat riak-riak di sekitarnya, ya setidaknya tertanam sikap untuk menuliskan dan membagikannya kepada dunia.

Bayangkan juga, bagaimana jika anak desa ketagihan nge-blog?
Jika anak desa ketagihan nge-blog dan dikerjakan dengan penuh semangat dan totalitas, pasti hasilnya sangat keren. Semakin lama nge-blog, semakin banyak konten berbau lokalitas yang terangkat dan diketahui pembaca. 

Coba bayangkan juga!

Jika bukan putera daerah, siapa lagi yang akan mengexplore potensi desa dan daerah-daerah di sekitarnya?
Hal-hal seperti itu perlu dipikirkan baik-baik.

Apalagi, saat ini kita berada di era digital dan teknologi informasi sehingga memungkinkan kita untuk terhubung satu dengan yang lain untuk menjalin komunikasi.

Duh, kok aku jadi ingat komunitas blogger Plat-M, Madura, yang hampir 4 tahun kujadikan rumah untuk berproses mengasah kemampuan menulis serta menjalin relasi dengan banyak orang. Plat-M, juga menggugah untuk berkarya dengan motto hebatnya, Menduniakan Madura.

Tentu saja, aku juga bisa menduniakan Madura. Dengan apa? Ya dengan aktif ngeblog dan memanfaatkan jaringan 4G LTE untuk memosting tulisan dan menyebarkannya kepada dunia. Masuk akal, kan?
Sejak saat itulah, aku aktif menulis tentang kampung halamanku dan sesekali memperlebar jangkauan ke daerah-daerah lain.

Aku semakin terinspirasi bahwa menjadi orang desa itu bukan keterbelakangan. Internet telah menjembatani hubungan antara kota dan desa sehingga setiap orang bisa kian maju dan berkembang.

Dari desa, aku ingin sekali menyumbangkan buah pemikiran tentang hal-hal menarik di kampung halamanku. Semoga juga menginspirasi anak-anak lain di berbagai daerah untuk ikutserta membagikan cerita bahwa setiap desa di seluruh tanah air, memiliki keberagaman, mulai bahasa, suku, dan agama.

Dari keberagaman itulah, kita harus saling belajar menghargai perbedaan tersebut untuk cita-cita para bapak pendiri bangsa tercinta ini, yang ingin menjadikan Indonesia sebagai :

"Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata."







Tulisan ini dikompetisikan untuk lomba blog #KEB5th dalam #XtraKEBeragaman

Senin, 16 Januari 2017

Beginilah Sosok Gus Dur di Mata Hisanori Kato, Profesor asal Jepang


PROFESOR Hisanori Kato, dari Chuo University Jepang, menegaskan, bahwa negeri sebesar Indonesia sebenarnya sangat berutang budi kepada (almarhum) KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Itu diutarakan saat ngobrol pintar atau ngopi di Griya Gusdurian, Gendeng, Yogyakarta, Sabtu (31/12/2016).

Di hadapan ratusan anak-anak Gusdurian, Kato menuturkan kisah-kisah pertemuannya dengan Gus Dur. Penulis buku Islam di Mata Jepang tersebut juga memaparkan pandangannya mengenai Islam menurut persepsi orang Jepang.

Pengalaman tinggal di Indonesia selama tiga tahun dan berinteraksi dengan tokoh-tokoh muslim Indonesia, membuat Kato memiliki penilaian khusus terhadap Gus Dur, dari pemikiran hingga sepak terjangnya, selama hidup layak dikaji dan dihidupkan kembali serta diteladani para generasi muda.

Saat bertemu Gus Dur, Kato tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap mantan Presiden RI ke 4 tersebut.

"Gus Dur itu sosok bijak dan tidak sombong. Sangat menghargai siapapun. Sulit menemukan sosok seperti Gus Dur," pujinya.

"Meski hari ini Gus Dur tidak lagi bersama kita secara fisik. Namun, soal pemikiran dan sepak terjang beliau dalam membumikan Islam damai senantiasa hadir di masyarakat Indonesia. Tentu saja, Gus Dur pasti akan senang bila menyaksikannya," ungkap Kato.

Menurutnya, kehadiran Gus Dur bukan semata-mata pemberi oase di dalam memaknai Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi kebersamaan dan perdamaian. Namun, juga sebagai sikap untuk memuliakan sesama.

"Gus Dur sangat menghargai siapapun, dari kelompok manapun, tanpa melihat suku, bahasa maupun agama," nilai Kato.

Tentu, sikap Gus Dur seperti itu sangatlah dibutuhkan bila melihat keberagaman Indonesia saat ini, tegasnya.
Secara khusus, Kato menyatakan kekagumannya terhadap Indonesia dan pengalamannya tinggal di Indonesia dituliskan di dalam buku Kangen Indonesia : Indonesia di Mata Orang Jepang.

Menurutnya, Islam di Indonesia itu seharusnya membawa pesan damai. Pemikiran seperti itu ditunjukkan Gus Dur kepada siapapun.

"Sehingga, saya merasa bersedih saat mendengarkan Gus Dur tiada," kisah Kato.
Kekaguman kato terhadap Gus Dur tidak semata atas pola sikapnya yang santun. Namun, juga tentang kemampuan daya nalarnya.

"Saya dibuat kagum saat mendengarkan Gus Dur mampu menghafal banyak nomor telepon di luar kepala. Setelah bertemu, ternyata kemampuan itu benar-benar dimilikinya," ungkapnya.

Di akhir acara yang sekaligus bertepatan dengan momentum perayaan haul ketujuh Gus Dur, Kato tak memungkiri bila anak-anak muda perlu mengkaji nilai-nilai keagamaan, terutama yang diperkenalkan Gus Dur di Indonesia.

Bagi Kato, Indonesia itu penuh keberagaman suku, agama dan budaya serta menjadi negeri yang indah dan perlu dijaga oleh generasi muda. Siapkah kalian menjaga Indonesia?

Tulisan di atas dimuat di tribunnews.com dan link bisa dibaca di sini 

Begini Cara Mudah Menulis Esai ala Muhidin M Dahlan


SEJUMLAH anak muda hadir menikmati peluncuran buku, pembacaan karya, diskusi, serta pameran buku indie, dengan deretan buku-buku terpajang rapi sekaligus memanjakan mata para pengunjung di Jual Buku Sastra (JBS), Yogyakarta, Jumat (30/12/2016).

Muhidin M Dahlan, pegiat literasi sekaligus pendiri Radio Buku di Yogyakarta berbagi pengalaman tentang prinsip dasar seputar penulisan esai.

Menurut lelaki yang malang melintang di jagad literasi tersebut, menulis esai seharusnya dilakukan mirip seperti menulis status di media sosial. 

"Coba perhatikan hal-hal sederhana di samping, kanan, kiri, lingkungan kita. Temukan sesuatu yang unik. Bisa benda-benda tak bernyawa ataupun bernyawa, lalu belajarlah mengomentari benda-benda tersebut," tuturnya kepada peserta.

Lanjut Muhidin, bila benda-benda tersebut dikomentari dengan penghayatan sekaligus kepekaan artistik disertai kejujuran untuk menuliskannya, maka hasilnya pasti luar biasa. Tak tertebak dan dipastikan menarik minat publik.

"Bila benda-benda tersebut dituliskan, jangan lupa disertai foto dan share ke media sosial dan lakukan secara rutin. Lama-lama, ide-ide kalian akan terbaca publik dan akan mendatangkan para pembaca," ujarnya.

Menurutnya, menulis esai semacam itu tidak salah. Sebab, banyak tipe menulis esai.

Muhidin menambahkan, bila menulis esai usahakan untuk melahirkan gagasan agar mampu memancing reaksi publik.

"Tulislah apa saja. Sebagai tahap menemukan pembaca kalian. Bisa saja belajar berkomentar dengan membuat tip tertentu. Susunlah gagasan dalam bentuk kronologis kejadian dan peristiwa semenarik mungkin," tegasnya.

Menurut Muhidin, tak ada cara terbaik dalam menulis kecuali rajin membaca, rajin menulis, latihan secara rutin dengan tujuan mencapai kematangan dalam mengemas gagasan.
Muhidin menyinggung sekilas pengertian esai berdasarkan buku yang ditulisnya, Inilah Esai : Tangkas Menulis Bersama Pesohor.

"Di buku tersebut, saya mengutip pendapat bapak esai Michel de Montaigne (1533_1592), saat menerbitkan esai pertamanya di abad ke 15. Di luar definisi itu, saya sepakat bila esai adalah suatu gaya menulis yang bukan-bukan," sebut Muhidin sekaligus menegaskan bila pernyataan tersebut terinspirasi dari Cak Nun dan celotehan Gus Dur.

"Esai disebut tulisan yang bukan-bukan, bila mengutip Mointaigne, yaitu semacam ekspresi bahwa esai adalah cerminan, meditasi, dan percobaan yang diekpresikan secara licin dengan bahasa yang lentur," ungkapnya.

Di buku itu, imbuhnya, sejumlah tokoh dan esais-esais terkemuka, mendapat ruang untuk menjelaskan tentang pendefinisian apa itu esai. "Maka, tak ada salahnya bila apa yang saya sampaikan dipraktikkan secara rutin," pinta Muhidin kepada peserta.

Bila demikian adanya, lanjut Muhidin, mari menulis esai dengan topik dan bahasan yang disukai, buatlah esai seperti kalian menulis status di media sosial. Share ke publik dan temukan pembaca kalian.


Tulisan ini dimuat di Tribunnews.com atau di Harian Surya Jawa Timur link tulisan dibaca di sini 


Kamis, 05 Januari 2017

Nilai Kebahagiaan seorang Blogger

Terima kasih untuk segala kenangan yang tertinggal di 2016

Ini pekan pertamaku melewati awal tahun 2017 yang gegap gempita. Di awal tahun ini, refleksi diri sebagai blogger part time, penuh misi pencapaian baru, penuh pengharapan perjalanan yang lebih baik, yang terlewatkan begitu saja di 2016.

Bila ditanya tentang apa yang membuatku merasakan kebahagianku di tahun 2017 ini? Aku menjawabnya karena aku senang menulis dan berpikir nikmatnya menjadi blogger yang produktif.

Nilai kebahagian sebagai blogger, menurutku karena kita bisa menuliskan berbagai hal menarik baik yang membahagiakan maupun menyakitkan yang berkembang di sekitar kita. Kita lepaskan semua apa yang kita lihat, dengar dan rasakan itu ke publik. Agar mereka ikut merasakan apa yang ada di lingkungan sekitar.

Dari tulisan itu juga, kita memiliki kesempatan mengajak yang lain ikut berpikir, ikut bergerak dari gagasan yang kita suarakan untuk mendorong program-program kemajuan.

Tak hanya itu, sebagai blogger, tentu kesempatan untuk merasakan kebahagiaan terbuka lebar. Blogger tidak akan pernah kesepian. Setiap saat para blogger bisa menikmati blog walking, ngomentari konten blog orang lain, lihat-lihat cerita berbagai makluk tuhan di muka bumi, mulai yang terlihat sangat serius, sedang ataupun terlihat apa adanya. Setidaknya akan mengembirakan diri kita.

Tulisan ini merupakan bagian refleksi dari hasil diskusi bimbingan menulis blog di group WatsApp, komunitas Blogger Plat-M, Madura, selama beberapa bulan.

Dalam diskusi tersebut, pesan paling menarik adalah kesempatan para blogger untuk menulis sesuatu dibalik layar alias behind the screen.

Setiap dari kita terlalu sering disuguhkan sesuatu yang mapan, sesuatu yang berkelas, namun kita tak pernah mencoba melihat bagaimana proses kemapanan itu terbentuk. Cerita-cerita dibalik layar itu, baik untuk kisah seputar diri kita ataupun orang lain yang terlibat keseruan dengan kita. Itulah sesuatu yang menarik dituliskan. Dikemas dan dikabarkan kepada dunia.

Bayangkan saja. Bila bepergian ke suatu daerah. Tak hanya keindahan destinasi yang kita kagumi keberadaannya. Namun, cerita-cerita menyertainya, interaksi dengan para pengunjung lain, jenis transportasi, seabrek cerita seputar itu. Itulah bagian kekuatan para blogger bila dituliskan dengan baik.

Bila kita mampu mengemas setiap cerita dan gagasan yang kita miliki dengan baik. Itulah kelebihan kita. Yang tak dimiliki semua orang. Apakah kalian setuju?
Tentu tak sekadar itu. Kenikmatan lainnya, menjadi blogger adalah kesempatan paling istimewa mencari teman, mencari relasi, menikmati kumpul-kumpul antar sesama blogger, selebihnya mencari rejeki dari konten blog.
Bila cerita ataupun gagasan yang kita miliki  dituliskan, yakinilah bahwa kehadiran kita di dunia ini benar-benar terlihat eksistensinya. Mirip petuah klasik Carel Amnesty, reporter dari Perancis berikut ini :

Menulislah, sebab pada akhirnya sejarah akan mengenangmu!

Kamis, 22 Desember 2016

Bila Masa Depan tak seperti yang Diharapkan

Catatan Fendi Chovi


Suasana di halaman Taman Budaya Yogyakarta terlihat ramai malam itu. Penampilan sejumlah musisi di panggung utama seolah menyambut kedatanganku yang baru tiba di Jogja.

Aku disambut pameran seni lukis dalam perhelatan PAPERU Pameran Perupa Muda Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2016 dengan tagline yang membuatku tersenyum agak geli, masa depan, hari ini dulu !

Tagline itu, sesaat membuatku merenung dan berpikir lebih jauh tentang apa saja yang kujalani hari ini dan apa yang kuharapkan di masa mendatang. Sebuah refleksi sejumlah perjalanan yang kulewati dan bagaimana perjalanan itu membentuk diri, pemikiran sekaligus kenangan dan mungkin kelak melahirkan keterkesanan atau sebaliknya, penyesalan seumur hidup karena aku telah melewatinya.

Di ruangan yang dipenuhi sejumlah lukisan para perupa, aku hilir mudik ke sudut-sudut ruangan menatap lukisan itu lebih lama. Sesekali, aku meminta difoto untuk menegaskan bahwa aku pernah hadir ke pameran FKY tahun 2016 ini. Ya, hadir sebagai pengunjung untuk menyaksikan aneka jenis lukisan para seniman.

Kedatanganku ke Jogja kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang lebh banyak karena urusan pertemuan organisasi. Kini, aku datang untuk belajar mengenal sesuatu yang lebih jauh, hidup berjauhan kembali bersama keluarga.


Dok. Pribadi : Pengunjung saat Melihat Pameran seni Rupa







“Apa sih yang sebenarnya kamu harapkan dari perjalananmu ke Jogja?” tanya temanku suatu hari setelah aku sudah hampir seminggu di kota Gudeg ini.

Apakah kamu hendak merencanakan masa depan yang lebih menjanjikan?" tanya temanku, sekali lagi.

"Aku hendak belajar tema-tema perdamaian di komunitasku. Meski tidak lama, setidaknya aku punya penggambaran ideal suatu hari nanti," jawabku dengan singkat. 

Oya, mungkin kalian ingin mengetahui bagaimana pandanganku tentang masa depan? 

Menurutku, masa depan itu sesuatu yang tidak tertebak. Sesuatu yang tidak akan bisa kita percayai hanya dengan rencana-rencana muluk hari ini. 

Namun, kita selalu diajarkan optimis dengan quote menarik ini : TIADA Hasil yang Menghianati Usaha
Setidaknya, hadirnya quote tersebut, kelak mampu menjadikan diri kita lebih tegar ketika menghadapi badai ujian saat mengejar impian-impian ideal yang hendak diwujudkan.

Selanjutnya, bayangkanlah bila segala usaha yang kita kejar dengan segala doa yang begitu lama kita panjatkan disertai jerih payah penuh keringat, tangis menanggung beban. Kemudian, bayangkan juga pada saat kita telah mampu mencapainya, bayangkanlah saat-saat kita pada akhirnya mampu tersenyum lebih lama, dan mampu menginspirasi yang lain untuk mengejar impian-impian mereka sendiri. 
Sayangnya, aku kerapkali menemukan sesuatu yang terbalik. Sejumlah rencana malah berjalan di luar yang kuharapkan. Kadang menyesakkan dada. Kadang diam-diam membuat hati tak mampu menerimanya.

Sebagai makhluk bertuhan, aku memasrahkan segala hasil akhir semua usaha kepada sang pencipta. Dengan sikap tetap berdoa semoga segala impian yang tak terjangkau itu, suatu hari segala usahaku mampu mengjaukaunya dengan ijin-Nya.

Setidaknya, kelak aku memiliki peluang untuk merasakan apa yang aku cita-citakan, yang kelak orang lain sebut sebagai keberhasilan dan pencapaian. 

Bila teman-temanku bertanya, bagaimana meraih masa depan itu, sambil tersenyum akan kujawab dengan tagline FKY :  Masa depan, hari ini dulu !