Kamis, 09 November 2017

Menarasikan Perdamaian di Ruang Diskusi Komunitas



Anak muda hari ini adalah harapan penjaga pilar keberagaman di masa yang akan datang. Di tangan anak muda itulah, harapan untuk menarasikan pesan perdamaian dalam perasaan, pikiran hingga tindakan perlu dibentuk, salah satunya melalui jalan berkomunitas.

Di negeri ini, sejumlah komunitas yang fokus bergerak dalam kegiatan bina damai mulai bermunculan. Dan di antara komunitas itu, salah satunya yang menginspirasiku adalah Young Interfaith Peacemaker Community Indonesia (YIPCI).

YIPCI, awalnya dibentuk di bawah naungan Indonesia Corsortium for Religius Studies (ICRS) Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, pada 12-14 Juli 2012. Dua pionernya, yaitu Andreas Yonathan dan Ayi Yunus Rusyana.

YIPCI fokus mengerakkan anak muda khususnya Muslim-Nasrani untuk menjadi Peacemaker dengan menggiatkan dialog lintas iman serta berbagi 12 nilai perdamaian yang menjadi modul YIPCI di kegiatan Student Interfaith Peace Camp.

Hingga kini, YIPCI fokus menjadi komunitas membawa pesan dan misi untuk menciptakan generasi damai yang berdasar atas kasih kepada Allah dan sesama.

Hal menginspirasi di YIPCI, diantaranya yaitu kegiatan Student Interfaith Peace Camp. Kegiatan ini merupakan agenda YIPCI yang digelar dua kali dalam setahun dengan cara merekrut anak-anak muda, di kalangan mahasiswa untuk menjadi anggota YIPCI sekaligus agen perdamaian.
 
reportase tentang Student Interfaith Peace Camp YIPCI di Harian Kompas
Student Interfaith Peace Camp digelar dimasing-masing regional di sejumlah kota, meliputi Medan, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dengan melibatkan alumni YIPCI sebagai asistan facilitator dan facilitator yang membawakan materi, game dan pesan-pesan perdamaian kepada peserta.

Dengan misi Building Peace Generation Through Young Peacemaker, YIPCI memiliki agenda pertemuan rutin setiap akhir pekan untuk Scritural Reasoning untuk mengkaji nilai-nilai perdamaian yang terdapat di dalam Al-Quran dan Alkitab dan membumikan A Common Word, buku berisi ajakan damai dari 138 tokoh Muslim kepada 300 tokoh Kristen untuk menjembatani terciptanya perdamaian.

Tidak hanya itu, YIPCI juga memiliki agenda Young Interfaith Peacemaker National Conference serta World Interfaith Harmony Week (WIHW) dengan agenda tour ke Singapura dan Malaysia mempresentasikan gagasan mengenai dialog lintas agama serta nilai-nilai perdamaian ke sejumlah kampus dan komunitas.
 
Reportase WIHW YIPCI ke Negeri Singapura dan Malaysia
Melalui YIPCI inilah, anak-anak muda ideal dan energik diperkenalkan untuk memahami berbagai persoalan menyangkut perdamaian dan kerukunan umat beragama. Hingga saat ini, aku terinspirasi dari berbagai agenda yang digelar YIPCI. Setidaknya, komunitas ini menjadi bagian tak terpisahkan dalam mewujudkan hubungan serta peluang membuka ruang dialog antara mahasiswa Muslim-Nasrani.

YIPCI juga dengan aktif berkolaborasi dengan sejumlah komunitas dan organisasi daerah untuk menyemarakkan agenda-agenda perdamaian. Dari agenda itu, terbuka peluang untuk berbagi pengalaman makna Unity in Diversity.

Selain itu, menurutku, YIPCI adalah komunitas berjejaring dan networking yang mengkoneksikan harapan untuk berbagi pesan damai. Terlebih, sejumlah materi dan agenda yang digelar YIPCI mendorong generasi muda secara terbuka untuk belajar berdialog dan berkonsiliasi untuk menyembuhkan luka-luka lama serta kecurigaan-kecurigaan terhadap kelompok dan agama tertentu. 

Hingga detik ini, aku merasakan aura positif dengan menjadi bagian dari komunitas yang dihuni anak-anak muda inspiratif dan berwawasan. 

Ber YIPCI, seperti mengantarkanku merasakan dan menikmati banyak momen indah terlibat dalam agenda proyeksi keberagaman dan kebhinekaan berbasis dialogue interfaith (dialog lintas iman).

Tercatat. YIPCI memiliki sejumlah alumni dari kegiatan student interfaith peace Camp. Jika dikalkulasikan semenjak tahun 2013 hingga 2017. Ribuan mahasiswa di sejumlah provinsi tercatat sebagai alumni YIPCI yang ikut mendorong proses rekonsiliasi dan kerja-kerja perdamaian di kampus dan di daerah mereka masing-masing.
 
Kegiatan Peace Camp YIPCI (doc. YIPC)
YIPCI juga mengelola buletin Peacenews yang diterbitkan secara berkala setiap bulan dalam dua bahasa. Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Buletin Peacenews menjadi sarana untuk ikut berpartisipasi menginspirasi mahasiswa untuk memahami hubungan Muslim-Nasrani dalam membingkai perdamaian di kalangan anak muda. 


Berharap dengan Peacenews inilah bisa menjadi sarana berexpresi menyuarakan perdamaian dan kebenaran agar setiap orang hak-hak manusia dijamin oleh Negara. Sehingga masyarakat tercerdaskan dengan berita-berita yang ada dan tidak selalu hoax. (Baca di sini bahaya hoax)


Demi menggerakkan agenda-agenda YIPCI, di setiap regional dibentuk head facilitator dan struktur kepengurusan yang ikutserta mendorong agar kegiatan-kegiatan di daerah tetap berjalan dengan maksimal.
Setiap momen hari-hari besar umat beragama seperti dua hari raya : Idul Fitri, Idul Adha, Hari Natal, Hari Toleransi Internasional, Hari Perdamaian Internasional dan hari-hari besar umat beragama yang lain. 

YIPCI menggelar acara untuk berbagi refleksi mendorong anak-anak muda mengamalkan ajaran luhur agama yang dianutnya. 

Itulah YIPCI. Komunitas anak-anak muda yang mendorong para anggotanya untuk terbang tinggi, menjadi agen perdamaian dan merekatkan hubungan antar manusia untuk hidup damai dan saling mengasihi antar sesama.

Dari YIPCI. Generasi muda diperkenalkan dengan diskusi-diskusi seputar dialog lintas iman, memahami ajaran agama untuk berkontribusi bagi perdamaian dunia. 

Seperti diungkapkan Hans Kung, "Tiada perdamaian dunia, tanpa perdamaian antaragama."

Inilah komunitas yang menginspirasi. Setidaknya mendorong agar generasi muda bisa berkolaborasi meski berbeda suku, agama, bahasa dan latarbelakang budaya.

Setidaknya berkomunitas bisa menjadi ajang berjejaring menyebarkan pesan damai. Di Indepen.id disebutkan jika terroris itu kan rela mati. Dan mereka menawarkan langkah keabadian serta kebahagiaan. Para agen perdamaian pun harus bersikap seperti itu. Mereka harus aktif berjejaring untuk menawarkan langkah hidup harmoni antar manusia.

Para anggota YIPCI juga saling mengklarifikasi ketika terjadi konflik mengatasnamakan dan melibatkan keyakinan dan agama yang dianut. Sehingga setiap anggota menjadi paham titik persoalan dan permasalahan yang menjurus pada SARA dan menjadikan agama sebagai biang kerok atas persoalan tersebut.

Untuk itu, YIPCI menekankan hidup berdamai dengan diri sendiri, orang lain, alam semesta dan Tuhan sebagai upaya menciptakan harmoni di kalangan umat manusia.

Harmoni itu akan tercipta ketika sekelompok anak muda aktif membingkai proses perdamaian dan menyebarkan pesan-pesan perdamaian untuk mewujudkan kehidupan yang bermartabat.

Untuk mewujudkan harmoni itu, YIPC Regional Jawa Timur pernah mengundang seluruh organisasi ektra kampus, seperti HMI, PMII, IMM, GMNI untuk ikutberpartisipasi dalam diskusi bertema, "Peluang dan Tantangan hubungan Muslim-Nasrani di kalangan Mahasiswa".
 
PEACE CAMP (Doc. YIPC)

Sesi Diskusi dan Rekonsiliasi saat Peace Camp (Doc. YIPC)
Kegiatan ini berhasil mempertemukan anak-anak muda untuk mengeluarkan pendapat, berbagi pengalaman terkait sekat-sekat yang membatasi mereka bergaul dengan orang-orang berbeda kepercayaan, bahasa dan daerah.

Dari diskusi itulah, aku menemukan fakta bahwa kebencian dan sikap intoleran lahir karena generasi muda memiliki bayangan yang berbeda tentang kelompok-kelompok lain di luar komunitas yang mereka jalani.

Akibatnya. Mereka menjadi tidak adil, penuh prasangka dan tak jarang menilai kelompok lain sebagai manusia yang tidak beradab. Dengan mempertemukan mahasiswa Muslim-Nasrani itulah, YIPCI berharap ditemukan ruang-ruang diskusi dan sharing berkelanjutan untuk kehidupan yang lebih harmonis di kampus.

YIPC Yogyakarta, juga menfasilitasi anak-anak muda untuk membicarakan topik tentang Islamisasi dan Kristenisasi mendatangkan pemantik dari Muslim dan Nasrani bertempat di salah satu gereja. Setidaknya, kegiatan itu bisa menjadi pembuka wawasan memahami aspek dari gerakan dakwah dan misi yang diemban oleh masing-masing oleh kedua agama tersebut. 

Sebab, kehadiran kata Islamisasi dan Kristenisasi seringkali menjadi pembatas hubungan dan membuat generasi muda phobia terhadap agama.

Di acara itu, aku benar-benar merasakan pesan-pesan damai dimunculkan untuk meyakinkan jika Islamisasi dan Kristenisasi memang wujud dari setiap agama untuk menyebarkan ajaran luhur kepercayaan mereka kepada manusia lainnya.
 
Belajar Mengenal Al-Quran dan Alkitab
Manfaat lain dari ber YIPCI, aku berkesempatan bertanya kepada teman-temanku yang beragama katolik maupun protestan. Dan sebaliknya, mereka (red, temanku yang Nasrani) juga bertanya kepadaku tentang islam, iman, al-quran dan kelompok-kelompok di dalam islam. 

Dari komunitas ini, aku dan teman-teman belajar untuk berbagi pesan damai kepada sesama anak muda dan berdialog kepada yang lebih tua. Setidaknya, kami mengelola iman dan mempercayai keyakinan masing-masing tanpa sikap saling mengusik. Sebab, agama bagi kami adalah jalan memahami kebesaran tuhan dan alam semesta.

Fendi Chovi, pernah menjadi fasilitator YIPCI 2016-2017











Jumat, 13 Oktober 2017

Berbeda dan Berada di Ruang dan Waktu yang Sama, Apa yang Kau Lakukan?

Reportase Fendi Chovi
Blogger/tinggal di Dungkek, Sumenep


SEJUMLAH perwakilan komunitas dan organisasi daerah mengikuti training Penggerak Perdamaian dan Keragaman Berbasis Komunitas, di Klenteng Hong San Kiong, Gudo, Jombang, Selasa-Jumat (11-14/7/2017).

Diinisiasi Gusdurian, Jombang, Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), dan Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI). Kegiatan ini memberikan kesempatan anak-anak muda mempelajari dan menyelami isu-isu tentang keragaman dan radikalisme.

Di awal sesi, Aan Anshori, fasilitator dari JIAD, menyinggung keterlibatan pemuda menjadi bagian dalam gerakan perdamaian dan menolak radikalisme serta memperkaya materi dengan diskusi kelompok, lalu mempresentasikannya.

 
Bersama Peserta Terpilih Training Penggerak Perdamaian dan Keragaman
di Klenteng, Hong San Kiong, Gudo, Jombang

Penrad Siagian dari PGI, fokus membahas analisis sosial menyangkut radikalisme dan sumber pemicu lahirnya radikalisme dalam agama.

"Kita harus mampu memetakan persoalan radikalisme dengan memanfaatkan analisis SWOT, sebagai agen komunitas perdamaian yang peduli dengan isu keragaman dan kebhinnekaan," tuturnya.

Ia menyinggung peran pemuda harus lebih signifikan terutama dalam memahami gejala-gejala sosial dan melihat faktor-faktor terjadinya radikalisme berbasis agama.

Dilanjutkan Amin Siahan, peserta harusnya terlibat dalam diskusi soal memenangkan kampanye perdamaian melalui penggunaan media sosial untuk menggalang dan menjaring komunitas perdamaian di setiap daerah.

Upaya memahami intoleransi dikemukakan Roro Wahyuningtyas. Ia memberikan tabel untuk mengukur kadar intoleransi keluarga dan komunitas. Tak hanya itu, upaya menggerakkan anak-anak muda terlibat aktif sebagai penggerak perdamaian dikemas dengan forum group discussion untuk membuat proyek agenda kegiatan berkelanjutan.

Peserta juga menikmati sesi field trip ke rumah ibadah dan komunitas keagamaan, menziarahi makam KH Abdurahman Wahid, ke Tebuireng, berdialog di Gereja Kristen Jawa Wetan Mojowarno, serta Pura Amarta Bhuana, Ngepeh, Jombang.

Lewat kunjungan diharapkan para anak muda lebih intensif berdiskusi serta berdialog dengan para pemeluk agama lain dan mendengarkan cerita penuh perjuangan dari komunitas keagamaan yang terdiskriminasi dan memperjuangkan hak-hak mereka sebagai warga negara.

Tak hanya itu, peserta juga berkesempatan merasakan live in, berupa tinggal bersama dengan warga setempat yang berbeda keyakinan. Peserta muslim di tempatkan di rumah warga non muslim. Sebaliknya, peserta non muslim tinggal di rumah warga muslim.

Ke depan, peserta juga terlibat dalam penulisan buku seputar pengalaman mereka berdiskusi dan berdialog yang didapatkan selama acara serta menjaring komunitas daerah agar berkolaborasi dalam agenda dialog antar iman. Keren kan?

Minggu, 19 Februari 2017

Ketika Anak Desa Ketagihan Nge-Blog

Saat itu aku hanya bisa tersenyum dengan rasa iri membuncah di dada ketika melihat teman-teman seperjuanganku pada kuliah lagi. Mereka seperti menjelma sosok berprestasi dan kelihatan semakin keren ke depannya. 

Di Facebook dan Instagram, mereka berbagi berbagai foto. Mereka terlihat sedang selfie di depan sebuah universitas bergengsi di luar negeri. Mereka juga dengan rutin membagikan foto ketika menikmati perjalanan melintasi banyak kota dengan keragaman, suku, budaya, serta bahasa di berbagai pelosok daerah di negeri ini.

Sedangkan aku, ah!

Aku mengalami kegetiran hidup luar biasa sehabis kecelakaan dan saat itu memutuskan resign bekerja selama-lamanya dari dunia jurnalistik. Entah, aku seperti dipaksa mengubah seluruh rute perjalanan hidupku ke arah berlawanan dari biasanya.

Duh, tuhan! Aku jadi apa nanti? Nyaliku ciut.

Di desa, aku seperti miris dengan keadaanku sendiri dan jalanku untuk mengembangkan diri dan berkontribusi kepada masyarakat semakin hari terasa kian terjal dan berat.

Apalagi, dengan menyandang gelar sebagai seorang sarjana dan hidup di tengah-tengah masyarakat yang jumlah sarjananya masih bisa dihitung dengan jari-jari tangan, sungguh mental dan keadaanku senantiasa diuji setiap saat.

Kehadiran para sarjana di kampung begitu jelas terlihat dan sangat mencolok. Bila tidak segera membuat aksi nyata, maka para sarjana itu hanya akan menjadi bahan tertawaan orang-orang.

Sarjana kok tidak bisa apa-apa. Ngeri, kan?

Di saat dilanda kebingungan sambil memikirkan rute baru yang harus kumulai lagi, terutama soal pekerjaan, tanpa sengaja aku melihat foto di dinding saat menghadiri acara kopdar blogger di ruangan kamarku. Saat itu, tiba-tiba terbayang juga setumpuk kenangan saat mengisi pelatihan menulis, menghadiri kopdar antar blogger, melihat klipingan tulisan di berbagai media cetak. Alamak !

Kenapa aku tak meneruskan nyaliku sebagai blogger saja? Suara-suara itu mulai berdesakan di dalam diriku dan terus memotivasiku untuk aktif sebagai blogger saja. Mengajakku kembali berkarya dan harus dimulai dari pinggiran desa dan tak perlu iri kepada yang lain, kepada teman-temanku seperti kutulis di awal tulisan ini.

Menulis (baca : nge-blog) bukan perbuatan nista. Jika disikapi dengan bijak, maka bisa menjadi sumbangsih pemikiran untuk banyak orang. Pramoedya Ananta Toer, nama besar di jagad kesusastraan di negeri ini, kembali hadir di telingaku dengan ungkapannya yang seperti ini :

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian"

Aku bertanya kepada diri sendiri, apakah aku siap untuk menekuni aktifitas nge-blog lagi?
Aku mencari jawaban itu sambil membayangkan masa-masa saat aku pernah konsisten menulis selama berbulan-bulan dan semoga ingatan itu membangkitkan seleraku menulis kembali.

Akhirnya, kubuat keputusan untuk menjalani rutinitas ngeblog dan menjadikannya sebagai pelampiasan hobi sebagai anak desa di Pinggiran Sumenep, Madura.

Saat memutuskan menjadi blogger itulah, aku mulai aktif menulis di blog dan mengulas hal-hal menarik di sekitarku.

Saat itu aku mulai turun ke masyarakat dan mencoba menulis seputar warung tongkrongan anak-anak muda yang dikelola warga setempat. Warung ini cukup dikenal di kecamatan Dungkek, kabupaten Sumenep. Namanya Bherung Toraja.

Di sekitar lokasi Bherung Toraja yang menghadap ke pantai itu, dulu pernah dibuat serial My Life My Adventure, Petualangan si Bolang, oleh salah satu stasiun TV swasta di negeri ini.

Ini tulisan tentang Bherung Toraja
dimuat di Tribunnews.com

Sambil duduk membeli secangkir kopi serta makanan penthol khas warung lesehan ini, aku memberanikan diri untuk menemui pemiliknya dan tanpa kuduga ternyata kami (antara aku dan pemilik warung ini) masih memiliki ikatan kekeluargaan dari garis kakekku. Ahai!

Aku tanyakan awal-awal membangun bherung toraja dan harapan terkait kehadiran warung tersebut untuk warga sekitar. Setelah data terasa cukup, aku mulai menuliskan panjang lebar di blogku dan kucoba juga mengirimkan tulisanku itu ke Surabaya.tribunnews.com

Tidak sampai satu minggu, tulisan karya itu ternyata dimuat. Itulah awal aku kembali menulis setelah menyatakan off dari dunia jurnalistik.

Setelah itu, aku mulai mencari kesempatan menjadi freelance jasa pembuatan artikel. Sungguh aku terbantu dengan layanan internet real mobile 4G LTE (Long Term Evolution) yang dikeluarkan XL.

Di kamar, aku sudah bisa menikmati kegiatan nge-blog dan membagikan berbagai tulisanku berdasarkan pada gambaran realitas kehidupan masyarakat dan potongan-potongan pengalamanku selama di desa.
Di Madura sendiri. Anda tahu? Xl, sebagai operator telekomunikasi seluler cukup dikenal dan cukup menggurita ke desa-desa. Sampai-sampai ada ungkapan berbahasa Madura begini : "Oreng Madhure Ngangguy XL (Artinya : Orang Madura Memakai XL).

Menariknya lagi, ungkapan itu terdapat pada banner berukuran besar dan dipajang di akses jalan-jalan provinsi di empat kabupaten di Madura. Tak jarang, beberapa konter HP dicat dengan lukisan serupa menggunakan label XL tersebut. Kreatif sekali, kan?

Aku sendiri benar-benar terbantu dengan hadirnya layanan LTE ini dan boleh dikatakan sebagai teknologi dengan jaringan terbaru dan masuk pada kategori generasi ke -4. Dengan LTE ini juga, saat menggunakan internet, terasa sekali keunggulan, utamanya kecepatan mengakses datanya.
Dengan memanfaatkan 4G LTE ini, aku semakin asyik saja menulis dan mengerjakannya dari pinggiran alam pedesaan.

Melalui aktivitas menulis itu juga, aku berjumpa dengan banyak momen berbau lokalitas. Aku menulis berbagai tradisi budaya dan seni dan hal-hal menarik lainnya di kampung halamanku. Aku menjadi takjub dibuatnya.  Meskipun dunia sudah agak modern, tapi berbagai tradisi di pedesaan yang cenderung klasik tetap dilestarikan.

Itu sebabnya, moment seperti itu perlu ditulis biar menginspirasi sejumlah kalangan sekaligus bisa dikenal ke berbagai pelosok daerah di negeri ini.

Entahlah, mungkin inilah jawaban lain tuhan untukku, "Dulu aku selalu mendengungkan dan bersemangat menjalankan motto, Think Globally, Act Locally," batinku.
Berpikirlah secara global, bertindaklah secara lokal.

Mungkin semangat itulah, yang diam-diam ikutserta melemparkanku ke kampung halaman dan belajar kembali dari pinggiran desa.

Suatu malam, aku berkunjung ke kediaman K. A Dardiri Zubairi, seorang pengasuh pondok pesantren yang cukup dikenal di kecamatan Gapura, kabupaten Sumenep, Madura.

Kiai ini selain disegani juga menjadi panutan dalam gerakan kebudayaan di Sumenep. Tidak kalah pentingnya lagi, beliau cukup dikenal sebagai sosok blogger dan karya-karyanya sangat keren dan menarik dibaca.
Di kediaman beliau itu, kami sharing-sharing tentang alam lokalitas sekaligus dunia per-bloggeran. Di sela-sela obrolan itu, aku menyempatkan diri bertanya, "Blog kepunyaan panjenengan yang berjudul, rampaknaong.blogspot.com sangat bagus, bapak kiai?"

Boleh diceritakan nih, kayaknya proses menggali tema di blog tersebut sangat menarik dan perlu dibagikan, pintaku kepada beliau.

Anda perlu mengetahui juga, jika K. A Dardiri Zubairi ini sudah menulis buku, judulnya, "Perempuan Madura".

Buku itu berisi sejumlah penggambaran mengenai kearifan lokal Madura dan tulisannya berasal dari postingan yang pernah dimuat di blog pribadinya. Beliau memulainya dari blog dan menjadikannya sebagai rumah menampung gagasan, cerita dan foto-foto di dunia maya atau internet.

Aku berharap, teman-temanku dan diriku juga bisa meniru beliau. Menjadikan aktivitas ngeb-blog sebagai sarana untuk menyuarakan gagasan, berbagi pengalaman, hingga hal yang berat, mendokumentasikan nilai-nilai lokalitas di pedesaan.

Hadirnya, internet itu, seperti dinyatakan Fredric Paul dari Network World, mampu memberikan kita ruang untuk berexpresi, berpendapat serta merdeka di dalam bersikap. Dari internet itulah, kita bisa menabur kebermanfaatan, menyuarakan apa yang terjadi di pinggiran. Blogger yang baik tidak akan tinggal diam melihat riak-riak di sekitarnya, ya setidaknya tertanam sikap untuk menuliskan dan membagikannya kepada dunia.

Bayangkan juga, bagaimana jika anak desa ketagihan nge-blog?
Jika anak desa ketagihan nge-blog dan dikerjakan dengan penuh semangat dan totalitas, pasti hasilnya sangat keren. Semakin lama nge-blog, semakin banyak konten berbau lokalitas yang terangkat dan diketahui pembaca. 

Coba bayangkan juga!

Jika bukan putera daerah, siapa lagi yang akan mengexplore potensi desa dan daerah-daerah di sekitarnya?
Hal-hal seperti itu perlu dipikirkan baik-baik.

Apalagi, saat ini kita berada di era digital dan teknologi informasi sehingga memungkinkan kita untuk terhubung satu dengan yang lain untuk menjalin komunikasi.

Duh, kok aku jadi ingat komunitas blogger Plat-M, Madura, yang hampir 4 tahun kujadikan rumah untuk berproses mengasah kemampuan menulis serta menjalin relasi dengan banyak orang. Plat-M, juga menggugah untuk berkarya dengan motto hebatnya, Menduniakan Madura.

Tentu saja, aku juga bisa menduniakan Madura. Dengan apa? Ya dengan aktif ngeblog dan memanfaatkan jaringan 4G LTE untuk memosting tulisan dan menyebarkannya kepada dunia. Masuk akal, kan?
Sejak saat itulah, aku aktif menulis tentang kampung halamanku dan sesekali memperlebar jangkauan ke daerah-daerah lain.

Aku semakin terinspirasi bahwa menjadi orang desa itu bukan keterbelakangan. Internet telah menjembatani hubungan antara kota dan desa sehingga setiap orang bisa kian maju dan berkembang.

Dari desa, aku ingin sekali menyumbangkan buah pemikiran tentang hal-hal menarik di kampung halamanku. Semoga juga menginspirasi anak-anak lain di berbagai daerah untuk ikutserta membagikan cerita bahwa setiap desa di seluruh tanah air, memiliki keberagaman, mulai bahasa, suku, dan agama.

Dari keberagaman itulah, kita harus saling belajar menghargai perbedaan tersebut untuk cita-cita para bapak pendiri bangsa tercinta ini, yang ingin menjadikan Indonesia sebagai :

"Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata."







Tulisan ini dikompetisikan untuk lomba blog #KEB5th dalam #XtraKEBeragaman