Selasa, 26 Maret 2019

1000 Blogger Kece dari FLP


Inilah gambaran rasa cintaku kepada FLP dengan penuh data-data dan alasan yang perlu kita rawat bersama-sama.

Sejak membaca adanya blogger FLP di instagram, aku menjadi tertarik serta menyimpan impian sederhana, bagaimana seharusnya aku mencintai FLP,  yaitu menjumpai anak-anak muda di desa-desa, yang sudah memiliki gadget serta terhubung dengan internet tapi masih awam soal tulis menulis.

Setidaknya, FLP yang tumbuh mekar di kota-kota besar, hingga kampus-kampus ternama, impian para pelajar, bisa menyebarkan sayap juang nya ke desa-desa.

Menjadi pembawa acara
saat kelas literasi FLP

Semangat dari desa dan demi desa saat ini, kudu tumbuh di kalangan pegiat literasi, terutama FLP yang notabene organisasi besar dan memiliki ribuan anggota di berbagai Provinsi.

Setidaknya, setelah membaca sepotong tulisan pendiri FLP, Helvi Tiana Rossa berjudul : FLP, penulis dari 100 kota

Kita menjadi tahu tentang sisi menarik dari program-program FLP dan sumber daya manusia yang dimiliki FLP di setiap daerah dan karya-karya mereka serta terobosan-terobosan yang dilakukannya dalam upaya menyemarakkan literasi, sebagai iktiar menguatkan literasi nasional.

Dengan membina blogger di desa-desa hingga menjadi blogger kece melalui sinergi yang baik dengan FLP Cabang/Ranting di berbagai kota di setiap provinsi sangat mungkin menjadi kian menggembirakan. 

Dari tulisan itu, aku membayangkan keren nih, jika Blogger FLP bisa ikut andil dalam mengeliatkan anak muda millenial untuk aktif dan tumbuh dari desa-desa, menjadi blogger kece.

Sesuai data riset dari IDN Media, dijelaskan jika millenial menentukan wajah indonesia ke depan. Data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (bappenas) ada 63 juta millenial, atau penduduk usia 20-35 tahun. 

Dari jumlah millenial yang ada, kegiatan FLP harus bersinergi dengan generasi Millenial di desa-desa, terutama menjadikan mereka sebagai blogger kece.

Hmmm ... berbicara soal Forum Lingkar Pena memang tiada bosannya. Wadah kepenulisan yang populer disingkat FLP ini merupakan organisasi inklusif (untuk siapa saja tanpa memandang ras dan suku) dan aktif mengorbitkan para penulis muda  berbakat nan keren di berbagai daerah di Indonesia hingga manca negara ...

Sejak didirikan oleh Helvi Tiana Rossa, 22 tahun yg lalu, tepatnya, tahun 1997, usia FLP saat ini benar-benar menapaki masa-masa dewasa dan masuk usia millenial. Dan genderang yang ditabuh di telinga anak muda di era ini, yaitu memampuan untuk melejitkan diri dengan kreatifitas.

Dengan impian "sederhana" seperti yang aku sebutkan di awal tulisan, inilah 5 alasan menarik kenapa aku kudu bersemangat dan menikmati aneka pelajaran menarik  terkait literasi di FLP, lebih-lebih sebagai blogger FLP.

5 Alasan Mencintai FLP

Pertama, rasa suka untuk bergiat di FLP  dan kemudian mencintainya, karena organisasi ini menyediakan banyak  forum pembelajaran menarik, yang berkaitan dengan passion saya, yaitu membaca dan menulis.

Liputan portal berita online
(suarajatimpost.com) terkait FLP

Visi misi yang dimiliki  FLP sangat pas dengan semangat saya mengembangkan diri dan ikut berpartisipasi mencerahkan umat ... melalui jalan membaca dan menulis.

Visi FLP adalah membangun Indonesia cinta membaca dan menulis serra membangun jaringan penulis berkualitas Indonesia. FLP sepakat untuk menjadikan menulis sebagai proses pencerahan Umat.

Misi FLP salah satunya, turut meningkatkan budaya membaca dan menulis, terutama bagi kaum muda Indonesia ...

Kedua, saya mencintai FLP karena organisasi ini memiliki landasan keislaman. Bagi saya sendiri, menulis itu penting karna salah satunya bisa menjadi referensi bacaan bagi orang-orang setelah kita. Menulis juga bisa menjadi bagian dari dakwah bil qolam (berdakwah dg tulisan).

 Jihad dengan pena demi menghasilkan tulisan yang menginspirasi banyak orang merupakan bagian dari ikhtiar untuk  membumikan semangat menguatkan literasi nasional dan pembentukan sumber daya manusia yang baik.

Jihad dengah pena merupakan penegas jika tradisi yang ada di FLP merupakan kelanjutan dari tradisi keilmuwan dan dakwah yang dimiliki ulama-ulama muslim terdahulu, yang begitu giat menyusun kitab hingga berjilid-jilid tebalnya. 

Menulis setidaknya bisa ikut menyertakan nafas keislaman yang ramah, berbudaya, dan menyentuh sisi keindahan Tuhan dalam ibadah. Ber-FLP berarti siap mengabdi kepada Tuhan dengan mencontoh tradisi ulama terdahulu dan kita arahkan sesuai semangat di era millenial saat ini ..

Ketiga, menulis itu sendiri ...

Menulis bagi saya adalah cara terbaik untuk bersyukur. Kita diberikan kesempatan untuk membaca karya orang lain, menelaah, mengkaji serta menikmati segala pemikiran dari penulis-penulis yang lain dan itu bisa menjadi terapi yang menyehatkan bagi tubuh dan jiwa.

Pernah saya membaca hasil pertemuan Internasional mengenai Pers di Bangkok, dinyatakan, jika Media Tulis akan tetap diperlukan. Kendati media visual makin mendominasi, media tulis tidak akan ditinggalkan, antara lain karena dalam proses membaca, terciptalah ikatan emosional antara pembaca dengan bacaannya. (Budi Darma).

Nah, ini sebabnya, budaya literasi di FLP tetap sangat diperlukan. Meskipun, FLP juga mulai memberikan ruang  pada kreator-kreator muda FLP untuk belajar sinematografi.

Nah, menjadi anggota atau pengurus FLP dengan melahirkan puluhan buku bermutu serta bisa dibaca secara luas oleh publik dan masyarakat yang bergiat diranah literasi tentu akan memuaskan batin dan intelektual. Lebih-lebih bisa Meet and Great sesama penulis FLP akan menegaskan betapa kerennya diri kita sebagai penulis dari FLP.

Keempat, saya mencintai FLP karena FLP menjadi organisasi yang me-nasional dengan ratusan ribu anggota. 

FLP menjadi sarana bagi banyak anak-anak muda untuk belajar berorganisasi, dan menyiapkan diri menjadi pegiat literasi di berbagai tempat. Terlebih, FLP juga memiliki ranting-ranting yang secara khusus memberikan kontribusi bagi kegiatan literasi di daerah-daerah. Dengan berorganisasi, kita memiliki cara gerak dan tujuan yang jelas dalam hal berorganisasi.
Setidaknya, kita selalu memiliki landasan menjalankan gerak Organisasi sesuai AD/ART yang ada di FLP. 

Kelima, jejaring antar penulis dan penerbit

Setiap penulis atau calon penulis harus tumbuh dalam dirinya semangat untuk berjejaring bersama penulis-penulis lainnya. Setidaknya, sinergi antar sesama penulis terus tercipta demi menghadirkan iklim literasi. 

Para penulis itu nanti juga bisa terus menerus menerbitkan karya-karya terbaiknya.

Nah, dengan rasa cinta seperti di atas. Bila akhirnya, aku bisa mengembangkannya dari desaku, dan menggiatkan dari desa-desa dengan melibatkan anak-anak muda produktif usia sekolah maupun yang sudah sarjana untuk kembali ke desa. Dan semangat mengexplore keindahan alam pedesaan akan terus tumbuh di kalangan anak-anak muda untuk menggunakan internet sebagai dakwah bil social media ala FLP.

Menulis serta menyebarkan gagasan dan membagikannya di sosial media. Berpahala dan memberikan dampak yang sangat positif.

Meet and Great
penulis kece FLP Jatim

Menjadi Sie Acara Silatwil FLP
Jawa Timur, di Sumenep

Bayangkan, jika kita bisa menemui 100 blogger di desa-desa serta  berbagi materi buat mereka tentang literasi dan sosial media. Maka, kita sudah menghasilkan kegiatan positif di desa.

Menjadi blogger adalah cara paling tepat untuk belajar menulis dan menyumbangkan gagasan-gagasan yang bisa kita share dan tulis di blog dengan cara yang sangat kreatif. 

Lagi, menurut riset IDN Media, sebanyak 94, 4 persen millenial Indonesia sudah terkoneksi dengan Internet dan kebutuhan dasar millenial adalah sandang, pangan, dan colokan. 

Millenial seperti mereka benar-benar kecanduan internet, dengan menggunakan internet 11 jam setiap hari. 9,6 untuk junior millenial dan  5,2 persen untuk senior. (IDN Media).

Dengan gambaran kecanduan seperti itu, betapa pentingnya menemui dan melatih para blogger di desa-desa, akan ikutserta membangun sumber daya manusia dan ini juga bisa menjadi jalan penguatan literasi nasional dari akar rumput. 

Dungkek, Pabengkon 2019

Fendi Chovi, pegiat literasi di FLP Sumenep

*Tulisan ini dibuat dalam rangka lomba blog dari blogger FLP pada rangkaian Milad FLP 22

Kamis, 25 Oktober 2018

Mira Sahid, Ngeblog dan Catatan Kebangsaan


Ditulis oleh : Fendi Chovi

Mira Sahid merupakan salah satu blogger keren. Dia adalah founder dari Kumpulan Emak Blogger Indonesia. Dari komunitas blogger itulah, dia berbagi nilai-nilai edukasi kepada masyarakat tentang manfaat menjadi blogger yang ikut berperan menyebarkan konten inspiratif dan edukatif kepada pembaca di media sosial.



Nah, pada tanggal 25 Oktober 2018, sosok blogger ini hadir ke Sumenep untuk berbagi materi soal menulis kreatif pada acara Bincang Budaya Festival Keraton dan Masyarakat ASEAN 2018, Jangan pernah lelah Mencintai Indonesia. Aku menikmati presentasinya. Dia berbagi tips bagaimana seharusnya seorang netizen itu, mengisi blognya.

Ada beberapa poin yang aku catat dari presentasinya itu, yaitu untuk menulis kreatif maka orang itu harus mampu menulis judul yang unik dan memikat. Judul itu harus menjadi daya penguat awal bangunan tulisan berikutnya, yang nantinya dilanjutkan dengan intro, detail, dan conclusion.

Ketika blogger mampu menghadirkan tulisan yang baik. Maka pikirkan juga sisi kebermanfaatan sehingga ada sisi edukasi dan menginspirasi pembaca melakukan hal-hal yang baik.


Dia juga mengupas panjang lebar bagaimana menulis kreatif. Menurutnya, menulis itu akan menarik jika kita memulai dengan cara bercerita. Tulisan itu harus dimulai dari quote dan ungkapan menarik agar lebih awal bisa membidik pembaca diawal tulisan.

Untuk itu, penguasaan  dan koleksi kota kata harus dimiliki sebaik mungkin oleh blogger.

Dia juga menyoal manfaat besar menjadi blogger yaitu sebagai sarana hobi atau passion, yang sedikit banyak sangat menguntungkan, juga sebagai rekam jejak digital dan media untuk personal branding dan sebagai engagement, yaitu hubungan komunikasi dua arah antara penulis dan pembaca.

Dari aktifitas ngeblog itu, penulis juga bisa menjadikan ajang silaturahmi antar sesama blogger dengan cara blog walking ke masing-masing blogger.

Nah, dari Mira Sahid itu juga aku belajar untuk mencintai Indonesia. Sebab, Indonesia merupakan saag saatu negara dengan pengguna internnet yang cukup banyak. Jadi semakin kita menyajikan sesuatu yang menarik dan menginspirasi. Maka anak2 bangsa akan juga termotivasi untuk menghadirkan nilai-nilai kebaikan dan menyebarkan hal2 yang baik kepada sesama netizen.

Bayangkan. Jika setiap hari kita memberikan yang terbaik untuk dibaca. Betapa besarnya pengaruhnya untuk anak-anak bangsa untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme dalam diri mereka.

Aku ingin menerapkan apa yang dia sampaikan untuk menulis sesuatu yang baik lebih-lebih tentang masyarakat dan keindahan alam di sekitarku.

Bersama para blogger, aku pernah menulis soal #MenduniakanMadura maka ke depan, upaya mencintai Indonesia harus dimulai dari menyebarkan hal-hal baik di sekitar kita kepada pembaca.

Kekayaan alam dan kekayaan ragam budaya serta tutur kata yang lembut adalah identitas bangsa ini yang perlu disebarkan kepada dunia.

Mira Sahid sudah menunjukkan bagaimana mencintai Indonesia melalui sosial media dan menyebarkan hal-hal baik kepada dunia.

Terima Kasih Mira Sahid !



Minggu, 14 Oktober 2018

Merawat Hidup Sehat dengan Sosial Media

Ditulis Fendi Chovi

Setiap bangun tidur, apa yang kamu lakukan dengan media sosialmu?

Pertanyaan di atas juga seringkali hadir dibenakku setiap saat. Namun, aku mendapati jawaban berbeda-beda atas apa yang sosial media berikan dan menghabiskan hari-hariku. 

Setidaknya, jawabanku berkaitan dengan sisi baik dan buruk serta penilaian pribadi, betapa pentingnya manfaat sosmed, yang memudahkanku untuk terkoneksi dengan teman-teman, menerima pesan dan update informasi kekinian. Namun, sisi buruk yang seringkali tiada disadari, yaitu waktu terhabiskan di depan gadget secara kurang produktif, seperti massifnya koleksi berita hoaks dan pertengkaran tidak perlu yang rutin disebarkan dan membajiri di timeline-ku.


Pertanyaan itu kerap hadir setiap paketanku juga habis dengan sia-sia dan aku rela menunggu berlama-lama di sudut perkampungan dengam sinyal kurang bersahabat. Namun, hari itu tiba-tiba pertanyaan itu seperti mendapatkan titik pijak dan inspirasi positif serta arah berbeda bagaimana aku harus lebih sehat bersosial media, saat aku mengikuti #KopdarBaik bersama Good News From Indonesia (GNFI) di salah satu Cafe di Sumenep.

Kegiatan ini didukung DIJKP, Kemenkominfo dengan GNFI, serta perusahaan media dan komunitas Blogger Plat-M, Madura. Acara ini dinilai sukses menarik anak-anak muda dan mengajak mereka berkampanye hal-hal positif lewat berita baik di sosial media.

GNFI sendiri menabuh genderang kampanye positif melalui sosial media dan blog dan merupakan salah satu website yang intensif ikutserta mengkampanyekan segala bentuk kabar baik di Indonesia di dunia maya, dan promosi digital ini sangat Independ dan terpercaya.


Hastaq #KopdarBaik 1000 hari terbaik itu, dihadiri sejumlah pembicara mulai dari pegiat sosial media, akademisi dan pejabat publik.

Nama-nama pembicara itu, yaitu Prof. Merryana Adriani, guru besar ahli gizi dari Unair, dan Nurfitriyana Busyro dan Akhyari Hananto dari GNFI serta bintang tamu Enno Lerian.

Akhyari Hananto, merupakan salah satu pemateri yang cukup inspiratif dalam acara ini. Ia bisa menyelami pikiran anak-anak muda yang haus ilmu dan pengalaman. Lebih2 bisa mendapatkan manfaat dari media sosial.

Dari sejumlah pemateri yang mengupas pola hidup sehat mulai dari keluarga, lingkungan dan jenis makanan yang kudu dikonsumsi serta kinerja pemangku kebijakan dalam melestarikan hidup sehat untuk masyatakat yang ada diwilayah kekuasaannya, aku hanya menulis catatan blog ini, menitik beratkan pada apa yang diulas oleh Akhyari Hananto.

Di awal presentasi ia membahas Indonesia sehat dan digdaya. Yaitu bagaimana anak muda belajar dari negara-negara maju dan menjadi bangsa sehat dan digdaya.

Ia mengupas sedikit sejarah bangsa Jepang, ketika mengawali masa-masa kebangkitan setelah menjadi negara yang hancur akibat perang dunia. Lalu, pembicaraan mengalir ke negara Korea dan Singapura. 

Tiga negara itu bisa menjadi kiblat untuk melihat bagaimana mereka membangunkan diri menjadi bangsa yang digdaya dalam waktu yang cepat. 

Founder GNFI itu, tidak hanya menguraikan negara-negara maju untuk menyemangati peserta agar berpikir maju, namun juga menguraikan bagaimana bangsa Indonesia ke depan harus siap menghadapi tantangan yang lebih serius, yaitu masalah kesehatan.

Indek kesehatan di Indonesia ini tergolong rendah dibandingkan negara-negara tetangga. 

Untuk itu, Hananto menegaskan bahwa sikap yang kudu dimiliki bangsa ini yaitu budaya hidup sehat dan berkarakter sehat. 
Kalau kita butuh data. Soal kesehatan, balita di negeri ini yang terkena stunting mencapai angka 23 juta dan kini penderita stunting mencapai 7,8 juta. 

Ketika berbicara hidup sehat, kita seringkali melihat fisik yang kekar dan gagah. Padahal, sehat itu meliputi dua komponen, yaitu sehat rohani dan jasmani.

Karakter sehat harus menjadi atensi utama agar masyarakat, terutama yang melek IT bisa bijak bersosial media.

Pernahkah Anda berpikir, betapa dasyatnya sosial media mempengaruhi kebijakan publik dan personal branding perjalanan hidup seseorang.

Untuk itu, agar di media sosial, kita tidak biasa menyebar berita-berita buruk dan saling menghujat satu, maka karakter sehat harus terbentuk dalam diri seseorang. Sebab, jika kebiasaan buruk di sosmed tidak dijaga. Nantinya, hal ini menjadi persoalan serius di tengah upaya merajut jalinan kebersamaan antara anak bangsa yang berbeda suku, agama dan bahasa agar senantiasa bisa hidup damai.

Kita harus menyadari betapa rakyat Indonesia adalah konsumen internet yang memungkinkan mereka berperilaku kurang baik dan kurang sehat di dunia maya.

Kegiatan menyebar postingan dengan topik dan ulasan isu negatif di sosmed sebenarnya mencerminkan betapa buruknya karakter kita, apalagi suka mengadu domba satu dengan yang lain di sosial media atas nama diri kita sendiri.
Nah, itulah sebabnya diawal tulisan ini aku bertanya, apa yang kamu lakukan dengan sosial mediamu setiap bangun tidur?

Jika hobimu masih menyebarkan berita bohong (hoax) dan informasi yang mengadu domba. Dan itu dikerjakan setiap hari sebagai aktititas rutin, bayangkan ! Berapa banyak isu negatif yang kamu sebarkan di sosial media yang dilihat seluruh teman-temanmu atau orang-orang dari teman-temanmu.

Nah, mengawali 1000 hari terbaik maka sudah saatnya kamu berbagi hal-hal positif, mulai berita tentang kesehatan dan bagaimana kamu harus menjalani aktifitas sosial mediamu untuk menyebarkan hal inspiratif dan edukatif.

Nah, benar apa kata Akhyari Hananto saat menyerukan, jika kamu belum bisa berbuat baik untuk masyarakat dan melakukan perubahan bagi masyarakat dan bangsa ini, maka banjiri sosial media dengan hal baik. Dari hal kecil itu, kalian sudah mencegah pertikaian dan perpecahan.

Jumat, 13 Oktober 2017

Berbeda dan Berada di Ruang dan Waktu yang Sama, Apa yang Kau Lakukan?

Reportase Fendi Chovi
Blogger/tinggal di Dungkek, Sumenep


SEJUMLAH perwakilan komunitas dan organisasi daerah mengikuti training Penggerak Perdamaian dan Keragaman Berbasis Komunitas, di Klenteng Hong San Kiong, Gudo, Jombang, Selasa-Jumat (11-14/7/2017).

Diinisiasi Gusdurian, Jombang, Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), dan Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI). Kegiatan ini memberikan kesempatan anak-anak muda mempelajari dan menyelami isu-isu tentang keragaman dan radikalisme.

Di awal sesi, Aan Anshori, fasilitator dari JIAD, menyinggung keterlibatan pemuda menjadi bagian dalam gerakan perdamaian dan menolak radikalisme serta memperkaya materi dengan diskusi kelompok, lalu mempresentasikannya.

 
Bersama Peserta Terpilih Training Penggerak Perdamaian dan Keragaman
di Klenteng, Hong San Kiong, Gudo, Jombang

Penrad Siagian dari PGI, fokus membahas analisis sosial menyangkut radikalisme dan sumber pemicu lahirnya radikalisme dalam agama.

"Kita harus mampu memetakan persoalan radikalisme dengan memanfaatkan analisis SWOT, sebagai agen komunitas perdamaian yang peduli dengan isu keragaman dan kebhinnekaan," tuturnya.

Ia menyinggung peran pemuda harus lebih signifikan terutama dalam memahami gejala-gejala sosial dan melihat faktor-faktor terjadinya radikalisme berbasis agama.

Dilanjutkan Amin Siahan, peserta harusnya terlibat dalam diskusi soal memenangkan kampanye perdamaian melalui penggunaan media sosial untuk menggalang dan menjaring komunitas perdamaian di setiap daerah.

Upaya memahami intoleransi dikemukakan Roro Wahyuningtyas. Ia memberikan tabel untuk mengukur kadar intoleransi keluarga dan komunitas. Tak hanya itu, upaya menggerakkan anak-anak muda terlibat aktif sebagai penggerak perdamaian dikemas dengan forum group discussion untuk membuat proyek agenda kegiatan berkelanjutan.

Peserta juga menikmati sesi field trip ke rumah ibadah dan komunitas keagamaan, menziarahi makam KH Abdurahman Wahid, ke Tebuireng, berdialog di Gereja Kristen Jawa Wetan Mojowarno, serta Pura Amarta Bhuana, Ngepeh, Jombang.

Lewat kunjungan diharapkan para anak muda lebih intensif berdiskusi serta berdialog dengan para pemeluk agama lain dan mendengarkan cerita penuh perjuangan dari komunitas keagamaan yang terdiskriminasi dan memperjuangkan hak-hak mereka sebagai warga negara.

Tak hanya itu, peserta juga berkesempatan merasakan live in, berupa tinggal bersama dengan warga setempat yang berbeda keyakinan. Peserta muslim di tempatkan di rumah warga non muslim. Sebaliknya, peserta non muslim tinggal di rumah warga muslim.

Ke depan, peserta juga terlibat dalam penulisan buku seputar pengalaman mereka berdiskusi dan berdialog yang didapatkan selama acara serta menjaring komunitas daerah agar berkolaborasi dalam agenda dialog antar iman. Keren kan?

Senin, 16 Januari 2017

Beginilah Sosok Gus Dur di Mata Hisanori Kato, Profesor asal Jepang


PROFESOR Hisanori Kato, dari Chuo University Jepang, menegaskan, bahwa negeri sebesar Indonesia sebenarnya sangat berutang budi kepada (almarhum) KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Itu diutarakan saat ngobrol pintar atau ngopi di Griya Gusdurian, Gendeng, Yogyakarta, Sabtu (31/12/2016).

Di hadapan ratusan anak-anak Gusdurian, Kato menuturkan kisah-kisah pertemuannya dengan Gus Dur. Penulis buku Islam di Mata Jepang tersebut juga memaparkan pandangannya mengenai Islam menurut persepsi orang Jepang.

Pengalaman tinggal di Indonesia selama tiga tahun dan berinteraksi dengan tokoh-tokoh muslim Indonesia, membuat Kato memiliki penilaian khusus terhadap Gus Dur, dari pemikiran hingga sepak terjangnya, selama hidup layak dikaji dan dihidupkan kembali serta diteladani para generasi muda.

Saat bertemu Gus Dur, Kato tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap mantan Presiden RI ke 4 tersebut.

"Gus Dur itu sosok bijak dan tidak sombong. Sangat menghargai siapapun. Sulit menemukan sosok seperti Gus Dur," pujinya.

"Meski hari ini Gus Dur tidak lagi bersama kita secara fisik. Namun, soal pemikiran dan sepak terjang beliau dalam membumikan Islam damai senantiasa hadir di masyarakat Indonesia. Tentu saja, Gus Dur pasti akan senang bila menyaksikannya," ungkap Kato.

Menurutnya, kehadiran Gus Dur bukan semata-mata pemberi oase di dalam memaknai Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi kebersamaan dan perdamaian. Namun, juga sebagai sikap untuk memuliakan sesama.

"Gus Dur sangat menghargai siapapun, dari kelompok manapun, tanpa melihat suku, bahasa maupun agama," nilai Kato.

Tentu, sikap Gus Dur seperti itu sangatlah dibutuhkan bila melihat keberagaman Indonesia saat ini, tegasnya.
Secara khusus, Kato menyatakan kekagumannya terhadap Indonesia dan pengalamannya tinggal di Indonesia dituliskan di dalam buku Kangen Indonesia : Indonesia di Mata Orang Jepang.

Menurutnya, Islam di Indonesia itu seharusnya membawa pesan damai. Pemikiran seperti itu ditunjukkan Gus Dur kepada siapapun.

"Sehingga, saya merasa bersedih saat mendengarkan Gus Dur tiada," kisah Kato.
Kekaguman kato terhadap Gus Dur tidak semata atas pola sikapnya yang santun. Namun, juga tentang kemampuan daya nalarnya.

"Saya dibuat kagum saat mendengarkan Gus Dur mampu menghafal banyak nomor telepon di luar kepala. Setelah bertemu, ternyata kemampuan itu benar-benar dimilikinya," ungkapnya.

Di akhir acara yang sekaligus bertepatan dengan momentum perayaan haul ketujuh Gus Dur, Kato tak memungkiri bila anak-anak muda perlu mengkaji nilai-nilai keagamaan, terutama yang diperkenalkan Gus Dur di Indonesia.

Bagi Kato, Indonesia itu penuh keberagaman suku, agama dan budaya serta menjadi negeri yang indah dan perlu dijaga oleh generasi muda. Siapkah kalian menjaga Indonesia?

Tulisan di atas dimuat di tribunnews.com dan link bisa dibaca di sini 

Begini Cara Mudah Menulis Esai ala Muhidin M Dahlan


SEJUMLAH anak muda hadir menikmati peluncuran buku, pembacaan karya, diskusi, serta pameran buku indie, dengan deretan buku-buku terpajang rapi sekaligus memanjakan mata para pengunjung di Jual Buku Sastra (JBS), Yogyakarta, Jumat (30/12/2016).

Muhidin M Dahlan, pegiat literasi sekaligus pendiri Radio Buku di Yogyakarta berbagi pengalaman tentang prinsip dasar seputar penulisan esai.

Menurut lelaki yang malang melintang di jagad literasi tersebut, menulis esai seharusnya dilakukan mirip seperti menulis status di media sosial. 

"Coba perhatikan hal-hal sederhana di samping, kanan, kiri, lingkungan kita. Temukan sesuatu yang unik. Bisa benda-benda tak bernyawa ataupun bernyawa, lalu belajarlah mengomentari benda-benda tersebut," tuturnya kepada peserta.

Lanjut Muhidin, bila benda-benda tersebut dikomentari dengan penghayatan sekaligus kepekaan artistik disertai kejujuran untuk menuliskannya, maka hasilnya pasti luar biasa. Tak tertebak dan dipastikan menarik minat publik.

"Bila benda-benda tersebut dituliskan, jangan lupa disertai foto dan share ke media sosial dan lakukan secara rutin. Lama-lama, ide-ide kalian akan terbaca publik dan akan mendatangkan para pembaca," ujarnya.

Menurutnya, menulis esai semacam itu tidak salah. Sebab, banyak tipe menulis esai.

Muhidin menambahkan, bila menulis esai usahakan untuk melahirkan gagasan agar mampu memancing reaksi publik.

"Tulislah apa saja. Sebagai tahap menemukan pembaca kalian. Bisa saja belajar berkomentar dengan membuat tip tertentu. Susunlah gagasan dalam bentuk kronologis kejadian dan peristiwa semenarik mungkin," tegasnya.

Menurut Muhidin, tak ada cara terbaik dalam menulis kecuali rajin membaca, rajin menulis, latihan secara rutin dengan tujuan mencapai kematangan dalam mengemas gagasan.
Muhidin menyinggung sekilas pengertian esai berdasarkan buku yang ditulisnya, Inilah Esai : Tangkas Menulis Bersama Pesohor.

"Di buku tersebut, saya mengutip pendapat bapak esai Michel de Montaigne (1533_1592), saat menerbitkan esai pertamanya di abad ke 15. Di luar definisi itu, saya sepakat bila esai adalah suatu gaya menulis yang bukan-bukan," sebut Muhidin sekaligus menegaskan bila pernyataan tersebut terinspirasi dari Cak Nun dan celotehan Gus Dur.

"Esai disebut tulisan yang bukan-bukan, bila mengutip Mointaigne, yaitu semacam ekspresi bahwa esai adalah cerminan, meditasi, dan percobaan yang diekpresikan secara licin dengan bahasa yang lentur," ungkapnya.

Di buku itu, imbuhnya, sejumlah tokoh dan esais-esais terkemuka, mendapat ruang untuk menjelaskan tentang pendefinisian apa itu esai. "Maka, tak ada salahnya bila apa yang saya sampaikan dipraktikkan secara rutin," pinta Muhidin kepada peserta.

Bila demikian adanya, lanjut Muhidin, mari menulis esai dengan topik dan bahasan yang disukai, buatlah esai seperti kalian menulis status di media sosial. Share ke publik dan temukan pembaca kalian.


Tulisan ini dimuat di Tribunnews.com atau di Harian Surya Jawa Timur link tulisan dibaca di sini 


Jumat, 23 Desember 2016

Aku Belajar Menjadi Bagian dari Jogja


Bertempat di Smart Lounge, Lippo Plaza Jogja, kegiatan Enlighten Your Mind bersama @Jogjacreatype dengan agenda seputar community, workshop, discussion serta live performance cukup menarik. Aku hadir untuk mengisi waktu di saat libur kerja hari itu.

Aku berangkat dari jalan Kaliurang naik sepeda motor.

Kegiatan pertama, yaitu workshop handletting bersama BelMen (Belajar Menulis). Dimulai pada pukul 02 siang hingga pukul 05 sore. Peserta menikmati pembelajaran mengenai handlettering, yaitu menulis indah (decorasi). Biasanya, produk dari aktivitas handletting ini digunakan untuk mendesain kafe, kaos (t-shirt) atau kamar dan brand perusahaan tertentu dengan nama-nama yang unik dan memanjakan mata saat dilihat. (Silakan kamu search di Google bentuk-bentuknya).

Menyenangkan belajar handlettering ini, karna panitia menyediakan alat-alatnya, seperti pensil, spidol, blackletter, brush pen, pointer pen, dan coper plate dan praktik langsung.

Pokoknya mahal untuk menyewa jasa handlettering ini kalau sudah kita ahli.

Setelah itu, yang menarik juga terlihat saat agenda talkshow chit chat, bersama Kadekarini, travel blogger dan Paksi Raras, mantradisi.

Obrolan dua sosok ini cukup menarik minatku. Seolah aku berpikir dengan diriku sendiri. O, ternyata kreativitas itu tidak terlepaskan dari kota yang kita tempati.

Dua sosok pembicara itu menyoal tentang Jogja, tempat yang hari ini kujadikan pelarian dari titik jenu di kampung halaman.

Menurut Paksi Raras, hal menarik dari Jogja dan layak dicintai adalah tentang awal terbentuknya kota Jogja. Jogja menjadi ibu kota peradaban  dan ini berpengaruh kepada karakter para penduduknya. Setidaknya, para penduduk tersebut memompa diri untuk dijadikan acuan sekaligus menjadi pioneer.

Para warganya memiliki semacam pemikiran bahwa mereka harus kreatif dibandingkan daerah-daerah lain. mental kreatif tersebut akhirnya juga terbawa ke kalangan para pemudanya. Terlebih, Jogja menjadi daerah yang sangat diistimewakan sehingga memunculkan kultur positif di Jogja.

Dengan melankolis, Paksi menyoal tentang rasa kagumnya kepada suasana di Jogja, seperti suasana saat hujan deras.

Berbeda dengan Kadekarini, perempuan yang menghabiskan waktu dengan melakukan perjalanan-perjalanan ke berbagai daerah ini mencoba memaknai Jogja sebagai kota paling menyenangkan.

Menurutnya, Jogja itu ke utara ada gunung, ke selatan ada laut, menikmati keindahan candi, dan secara kultur juga sangat positif dan inilah yang menyebabkan jogja sangat menarik dijadikan tempat tinggal.

Selama berlangsungnya talkshow tersebut, aku bisa memetik sebuah aroma persinggungan antara alam kreativitas dengan alam tempat seseorang berdomisili. Terasa aku tidak salah tinggal di Jogja.

Semoga saja !