Minggu, 04 Desember 2016

Kisah si Jomblo Militan Menikahi Seorang Gadis


Pada suatu malam yang tengah kosong kegiatan. Temanku dari Ciamis yang belum lama tiba di kos sebagai anak baru mengajakku berkunjung ke lokasi-lokasi wisata. Ingin menikmati suasana baru, katanya. Aku mengajaknya ke Bukit Bintang. Selain penasaran dengan berbagai ulasan menarik terkait tempat tersebut, aku ingin sekali menyaksikan suasana di atas bukit yang katanya menjanjikan romantisme.

Malam itu kami berangkat menaiki sepeda motor. Menyusuri jalan di Wonosori, sesekali memasang mata ke kiri dan kanan jalan. Siapa tahu ada bidadari nyasar di Jogjakarta ini.

Sesampai di lokasi, ternyata suasana wisata sudah ramai oleh anak-anak muda. Mereka terlihat asyik ber-selfie. Perjalanan dengan mengendarai sepeda motor dari kos ke Bukit Bintang cukup menguras energi. Kami pun langsung memutuskan untuk makan malam.




Bukit Bintang. Wisata yang satu ini sudah dikenal luas di Jogjakarta. Kita bisa menyaksikan kota Jogja dan gemerlap cahaya, serasa berdiri di atas bintang-bintang jika melihat ke bawah dari ketinggian. Hamparan cahaya lampu tampak indah dan cantik di malam hari dari atas bukit ini.

Ngobrol dan menikmati suasana di Bukit Bintang. Di sini para pengunjung tidak hanya disuguhi pemandangan yang mengesankan. Berbagai warung makan berjejer, para pengunjung bisa mememesan makanan dan minuman dengan harga bervariasi. Kopi, jagung bakar, atau mi rebus. Bersama teman, pacar, atau keluarga menatap gemerlapnya lampu-lampu di kejauhan. Indah lah pokoknya!

“Duduk di sini mengingatkanku pada masa-masa muda, Mas,” kata temanku.

“Aku kira ada benarnya, Mas. Duduk di sini apalagi jika mengajak pasangan, barangkali akan membuat kita menjadi manusia paling romantis. Kita bisa menunjukkan kepada kekasih. Hamparan lampu-lampu dibawah sana. Seolah-olah kita menyaksikan bintang-bintang di langit,” kataku menimpali.

Mular, begitu nama temanku ini. Ia sudah memiliki istri dan dua anak, sedangkan aku sendiri masih berstatus lajang. Tak masalah, justru itu kesempatan besar bagiku untuk menikmati kebebasan.

Menikmati hidangan bakso dan ice juice. Kami bercerita panjang lebar tentang apa saja yang menarik bagi kami. Tak sungkan aku bertanya seputar awal perkenalan dan perjumpaannya bersama istri.

Ia menatap ke hamparan cahaya di kejauhan dari arah ketinggian bukit bintang ini. Menghela napas. Kemudian bercerita tentang kenangannya saat awal-awal PDKT dengan si istri.

“Saat aku masih jomblo, Mas. Aku pernah bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Gajiku lumayan sih saat itu,” ujarnya.

Pertemuan itu bermula saat Mular berkunjung ke sebuah restoran. Di sana ia bertemu dengan perempuan yang menurutnya sangat menarik perhatiannya. Mular menyebutkan jika gadis itu tidak seperti beberapa perempuan yang selama ini dikenalnya.

Sejak kejadian itu, Mular jadi sering bertandang ke restoran tempat gadis itu bekerja, dengan harapan si gadis tersebut membawakan hidangan menu makanan yang dipesannya. Tak disangka, gadis itu benar-benar mengantarkan hidangan yang dipesan. Sayangnya, ia tidak merespons sama sekali apa yang ditanyakan oleh Mular. Mungkin karena pertanyaan Mular hanya seputar, boleh kenalan, boleh minta nomor HP, dan pertanyaan basa-basi lainnya.

Si gadis tidak merespons dan berlalu begitu saja ketika selesai mengantar pesanan.

“Sebagai jomblo militan, aku merasa ditantang dengan keadaan seperti itu. Aku penasaran, Mas. Jadi setiap malam, aku bertandang ke tempat gadis itu bekerja. Membeli segala jenis makanan yang ada di restoran itu. Bahkan, tak jarang aku menghabiskan Rp100.000 lebih untuk sekali makan.”

“Gajiku saat itu cukup banyak sih. Apalagi, aku kan masih jomblo. Jadi cukuplah sekadar makan di restoran itu,” tukas Mular.

“Sebagai jomblo militan, aku tidak kalah siasat. Saat gadis pelayan restoran itu semakin sulit diajak berdiskusi, aku diam-diam memiliki ide baru.”

“Aku meminta nomor gadis itu kepada pelayan lainnya. Mbak, boleh dong saya dikasih nomor HP teman sampeyan yang itu,” kata Mular sambil terkekeh.

“Aku berkata seperti itu sambil memberikan uang seadanya sebagai ongkos kepada si teman gadis itu, lho?”

“Tak disangka, ternyata nomor gadis itu kudapatkan. Ya, saat itulah, kami berkenalan dan niatku saat itu bukan lagi berpacaran. Tapi langsung menikah.”

“Kutembak gadis itu dengan pertanyaan begini, maukah engkau jadi istriku?” kata Mular agak malu-malu.

Si gadis agak malu-malu dan kemudian menjawab, “Iya, boleh Mas. Silakan minta kepada orang tuaku.”

Sebagai jomblo militan dan pernah kesepian, Mular pun langsung menyiapkan diri menemui bapak gadis itu. “Tahukah berapa hari untuk mendekati gadis itu, Mas?” tanya Mular kepadaku.

Aku menggelengkan kepala.

“Serius hampir sebulan lho, Mas. Tak ada tanda-tanda kalau gadis itu tertarik padaku. Atau jangan-jangan ia sedang menguji cinta dan keseriusanku,” ungkap Mular serius.

“Beruntungnya sih, aku tercatat sebagai jomblo militan dan akhirnya Tuhan mengabulkan doaku. Kami pun menikah,” ungkap Mular.

“Terus, bagaimana dengan Mas sendiri?”

Gerimis tiba-tiba turun. Aku terdiam. Aku tak mampu berkata-kata. Tak ada cerita, pun tak ada sesuatu yang layak diceritakan. Dalam hati, aku berkata, “Maaf, Mas. Aku belum memiliki perempuan yang bisa diceritakan panjang lebar.”

Kalau saja Bang Mular tahu. Selain jadi kawan, kesepian itu lebih sering jadi lawanku. Setidaknya untuk sekarang, aku tak mampus dikoyak-koyak sepi.

Ditulis oleh Fendi Chovi

Tulisan ini dimuat  Jombloo.co (02/12/2016)

Rabu, 24 Februari 2016

Ketika Sumenep menjadi Gudang Para Penyair?

RATUSAN budayawan senior dan penyair muda berkumpul di pendopo agung Kabupaten Sumenep, Madura. 

Mereka terlihat bercengkerama dengan akrab dan saling bertukar ide tentang dunia kepenulisan dan kepenyairan.

Sabtu, tanggal 20 Februari 2016 itu merupakan peluncuran buku Ketam Ladam Rumah Ingatan, antologi puisi penyair muda Sumenep. 

Di acara tersebut, hadir para budayawan muda Sumenep baik yang berdomisili di Madura dan di berbagai daerah lainnya, untuk berbagi pengalaman seputar kesusastraan.

Hari itu Syaf Anton, kurator  buku menjelaskan di hadapan para penyair dan masyarakat yang memadati Pendopo Agung Sumenep.

Menurutnya, buku antologi tersebut adalah kumpulan karya penyair muda Sumenep yang lolos seleksi. 

Panitia memilih karya bukan nama penyairnya, sehingga karya yang terpilih adalah puisi yang layak untuk diapresiasi.

Syaf Anton mempertegas bahwa para peserta yang mengirimkan karya dan tidak masuk antologi janganlah berputus harapan dan tetaplah berproses dan berkarya.

Terlebih, Sumenep dianggap sebagai barometer kesusastraan serta dikenal sebagai gudang dan lumbung para penyair di Madura.

“Jangan terburu-buru dalam menerbitkan buku. Mantapkan kualitas agar pembaca memahami dan menikmati. Biarpun hanya menulis satu buku tetapi berkualitas. Maka itu akan menjadi karya monumental,” imbuhnya.

Pada kegiatan tersebut dilanjutkan dengan peluncuran buku dengan narasumber, Jamal D Rahman, Pimred Majalah Horison, serta M Faizi, penyair,  dan Raedu Basya hadir sebagai moderator.

Tak hanya itu, para peserta juga menikmati lomba baca puisi di tempat yang dipersembahkan oleh panitia. 

Saat Sumenep menjadi gudang para penyair. Maka inilah kekayaan Madura yang tidak boleh dilupakan. Benarkan?

#Reportase Fendi Chovi 

(dimuat di Tribunnews.com)

Minggu, 14 Februari 2016

Para Penentang Hari Valentine

Beberapa waktu lalu, publik Indonesia dibuat heboh dengan kedatangan Hari Valentine yang jatuh pada Sabtu, (14/2). Perayaan Valentine mendapatkan penolakan keras dari sejumlah umat muslim. Berbagai aksi digelar untuk menolak perayaannya.

Hari Valentine dianggap lebih condong menjadi ajang menabur kemaksiatan di kalangan pemuda daripada menebarkan kasih sayang yang sebenarnya. Lalu apa yang salah dari Hari Valentine sehingga memunculkan reaksi sengit dan penentang itu?

Ternyata, tradisi perayaan Hari Valentine menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke Indonesia. tidak sedikit para pemuda merayakan hari itu bersama pasangannya. Kaum muda akan selalu berbicara cinta dan kasih sayang sesuai  selera dan kemauannya.

Meski itu kadang bertentangan dengan aturan halal dan haram dalam agama islam. sebenarnya, inti perlawanan dan penentangnya tersebut karena hari valentine lebih banyak membuat pemuda terbawa arus gelombang kebebasan, mengumbar hawa nafsu daripada menabur kasih sayang yang sebenarnya.

Kasih sayang yang menguatkan, memberikan kenyamanan, dan perlindungan. Maka, anjuran menolak Hari Valentine pun marak. Karena, selain tradisi ini besarl dari luar islam, tradisi ini juga mencampurbaurkan antara yang halal dan haram dalam konteks hubungan anak manusia. Dalam islam tidak ada aturan merayakan hari kasih sayang pada hari-hari tertentu sebab kasih sayang harus tetap dirayakan setiap hari, dalam suka atau duka. Kasih sayang tetap harus disebarkan. Nah, dalam konteks hari Valentine, kasih sayang tersebut justru disalahgunakan karena lebih bermuatan kemaksiatan daripada merayakan cinta.

Tentu merayakan kasih sayang karena unsur cinta kepada pasangan adalah sesuatu yang dianjurkan dan ini akan berbuah pahala. Tetapi, berbagi kasih sayang kepada seseorang terlebih yang mah belum ada ikatan pernikahan merupakan salah satu ujian terberat keimanan seseorang.

Felix Y Siauw dalam bukunya Udah Putusin Saja menyampaikan bahwa punya cinta tidak berarti harus mengumbar cinta, kan? Mencinta tidak berarti membolehkan segala yang dilarang Allah SWT, kan?

Itulah sebabnya perayaan Hari Valentine harus ditentang. Perayan ini bukan saja membuat cinta hanya sebagai komoditas- lewat hadiah-hadiah, cokelat, bunga, lilin, dan berbagai jenis lainnya  melainkan juga membuat semangat penyimpangan dalam generasi Muslim menjadi semakin parah.

Ustad Anis Matta dalam buku Serial Cinta menulis bahwa inti cinta adalah pelajaran bagaimana menjadi lebih baik dan berkesinambungan. Tentu merayakan cinta merupakan sebuah upaya agar cinta bertambah lebih menyenangkan dijalani dan dilalui, dan cinta pun akan tumbuh bersemi.

Tetapi, merayakan cinta lewat momentum apalagi terpaku pada sesungguhnya membuat cinta hanya sebagai tradisi. Padahal, cinta harus dirayakan setiap hari. maka tak salah kalau merayakan cinta di lahan yang salah. Tentu ini sebuah penyimpangan, bukan?

Bagaimana menurut Anda?

NB : Tulisan ini pernah dimuat di kolom Harian Republika. Saya lupa tanggalnya, tks. 

Dongeng bukan Sekadar Tradisi Lisan

TIDAK banyak masyarakat yang berpikir kritis tentang keberadaan dongeng dan menganggapnya sebatas tradisi lisan. Padahal, dongeng juga digunakan sebagai upaya melegitimasi wacana untuk mengekalkan kekuasaan dan memberikan pengaruh pada suatu simbol tertentu. 

Demikian ujar Henry Nurcahyo, budayawan, saat mengisi dan membincangkan dongeng pada diskusi Kearifan Lokal dan Rekayasa Budaya pada dialog budaya forum Budaya dan Sastra (Bias), Sumenep, Madura.

Dihelat di rumah budaya Art Galery, Sumenep, Senin, 8 Februari 2016 silam, diskusi dihadiri puluhan pecinta buku dan budaya.

Henry Nurcahyo, penulis buku dan sekretaris Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jawa Timur ini hadir dan menegaskan pengaruh tradisi lisan yang sudah mengakar dan ikut memengaruhi nilai kearifan lokal di tengah kehidupan masyarakat.

Menurutnya, untuk mengetahui perkembangan sejarah, sejatinya tak hanya harus melihat artefak ataupun teks, tetapi tradisi lisan yang diceritakan dan berkembang di masyarakat harus juga dilihat.

Bahkan, tak jarang pengaruh tradisi lisan pun lebih dominan dan memengaruhi cara berpikir masyarakat tentang pembenaran suatu hal yang jarang dipikirkan manusia.

“Banyak orang terhegemoni dengan peribahasa dan dongeng yang akhirnya membuat diri kita menjadi masyarakat terpinggirkan,” ujarnya di hadapan peserta.

“Buktinya, coba pikirkan, keberadaan cerita Panji yang sampai harus dibuat relief pada candi dan menjadi cerita negara di masa kejayaan Majapahit. 

Bahkan, cerita Panji pun menyebar ke negara asing. Di Thailand, cerita Panji dikenal dengan sebutan Inao dan Eynao,” jabarnya.

Henry pun menulis buku berjudul Rekayasa Dongeng dalam Bencana Lumpur Lapindo dan Memahami Budaya Panji sebagai bahan diskusi. 

Kini Henry gencar mengingatkan masyarakat agar kritis saat membaca dan mendengarkan dongeng yang kadang kontennya digunakan pemerintah dalam membenarkan suatu peristiwa. 

Sehingga tak jarang dongeng di masa dahulu kerapkali digunakan serta diperalat sebagai wacana untuk mengenalkan kekuasaan para penguasa.

Fendi Chovi (Dimuat di Grup Tribunnews)





Minggu, 24 Januari 2016

Menggagas (Rumah) Perubahan


Oleh Fendi Chovi

Nak-kanak Komunitas blogger Plat-M,
fb.com/fendi chovi

... dari rumah kos kediaman Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto itulah, para pendiri bangsa ini sewaktu muda pernah belajar dan berdiskusi tentang kebangsaan...

"SAYA tetap berharap rumah Tjokroaminoto ini bisa menjadi rumah diskusi anak muda,” ungkap Eko Hadiratno, pengelola Rumah Peneleh, saat bedah buku Guru Bangsa : Strategi Pendidikan Tjokroaminoto dalam Rumah Kos Soeharsikin, karya Rintahani Johan Pradana di rumah HOS Tjokroaminoto, Surabaya, Jumat (20/11/2015) malam.
 
Peserta Bedah Buku di Rumah HOS Cokroaminoto

Bedah buku ini dihajat penerbit Pustaka Saga dan dihadiri beberapa praktisi sejarah Surabaya serta mahasiswa dari berbagai kampus di Jawa Timur. Kurang lebih tiga jam, peserta menikmati dan mendengarkan seputar proses penulisan buku tersebut.

Joe, sapaan dari Rintahani Johan Pradana menceritakan, buku tersebut terlahir karena penugasan menyusun skripsi dan penggalan ide tersebut beberapa di antaranya dibagikan di rubrik Citizen Reporter Harian Pagi Surya.

Bustomi, pembedah mengupas beberapa keunikan buku dan data-data sejarah lain tentang sejarah pergerakan HOS Tjokroaminoto. “Rumah kos-kosan ini adalah salah satu bukti lahirnya para tokoh-tokoh bangsa Indonesia. Anak-anak didikan Tjokroaminoto pun kreatif menulis juga. Itu terlihat dari media-media yang ada di masa itu. Maka anak muda harus giat menghidupkan budaya literasi dan aksi nyata untuk mengawal jalannya perubahan,” papar Bustomi.

Diakui Bustomi, selama proses literasi dan aksi nyata bersatu, maka gerakan nyata untuk perubahan akan dirasakan masyarakat lebih dasyat pengaruhnya.

“Berdiskusilah dan menulislah, maka pengaruhnya akan lebih besar dan ditakuti dari sekadar demontrasi biasa,” imbuh Bustomi.

Berbeda dengan Wawan Ismanto, pengurus Rumah Kepemimpinan PPSDM Surabaya ini menegaskan bahwa buku karya Joe tersebut, setidaknya mendidik anak muda sebagai bagian dari rumah perubahan itu harus bermula dari kos.

“Di buku Rumah Bangsa ini ditegaskan bagaimana Tjokroaminoto menampung anak-anak muda dan pada akhirnya bisa menjadi tokoh besar di Indonesia,” ujar Wawan.

“Sayangnya, Tjokroaminoto memberikan kebebasan dan membiarkan anak-anak didiknya memilih ideologi berbeda dan kadang bertentangan dengan Tjokroaminoto sendiri,” imbuh wawan menyesalkan.

Namun, Wawan mengaku terinsipirasi bahwa mengembleng anak muda harus dimulai dari gagasan rumah perubahan dari kos-kosan, inilah rumah guru bangsa tersebut. Ini penting dan sudah mulai dilihat oleh beberapa organisasi untuk mengembleng anak muda,” tegas Wawan.

Artikel di atas di muat di Tribun ini link-nya

Sabtu, 29 Agustus 2015

Peran Para Pemuda di Balik Kekuatan Pers

Mengikuti Fellowship SEJUK

TUGAS para jurnalis adalah mengadvokasi persoalan ketimpangan di dalam masyarakat dan lakukanperlawanan dengan cara menuliskannya. Begitu ungkap Shinta Maharani, kontributor koran Tempo saat mengisi workshop Pers Kampus yang di hadapan sekitar 25 perwakilan Lembaga Pers Mahasiswa. Wokrshop bertema Mewartakan Isu Keberagaman itu dihajat 4-6 Juni 2015 lalu di Hotel Pandanaran, Yogyakarta.

Pelatihan untuk aktivis pers kampus ini, menyajikan materi seputar konflik, pelanggaran HAM, isu gender dan agama serta kebebasan dan memahami etos kerja peliputan. Menghadirkan narasumber dari koran Tempo dan Jakarta Post yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Yogyakarta.

Peserta menikmati sensasi belajar peliputan lewat field trip ke lokasi yang telah ditentukan panitia. Mereka belajar bertanya, mewawancarai dan menuliskan hasil liputan sebagai tim. Masing-masing tim mempresentasikan hasil karya liputan mereka di hadapan peserta yang lain.

“Tugas para jurnalis adalah memperjelas informasi dan mendudukkan masalah secara jelas," tegas Ahmad Junaidi, jurnalis Jakarta Post saat mengomentari tulisan peserta yang dinilai kurang tepat dalam pengambilan angle dan penggambarannya kurang tajam.

Pada sesi materi Media dan Kebebasan, Andi Budiman, mewanti-wanti agar para jurnalis muda lebih peka dan mampu mewartakan fakta seputar kehidupan masyarakat yang sedang bertentangan, termasuk kelompok-kelompok intoleran.

Selama tiga hari, peserta belajar berdiskusi, berdialog seputar konflik dan pelanggaran HAM yang kerapkali terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Peserta pun terlihat menikmati pembelajaran mengadvokasi lewat tulisan untuk memberikan suara pada kehidupan mereka yang termarginalkan. dan bertanggungjawab merawat kehidupan berbangsa dan bernegara lewat peranan media massa. 

Workshop Pers Kampus atas inisiatif Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk), Friedrich Nauman Stiftung Fur Die Freinheit (FNF), melibatkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), memberi kesempatan kepada aktivis pers kampus di Jawa Timur dan Jawa Tengah untuk belajar tentang perananan media untuk merawat Indonesia.  Di tangan para jurnalis muda inilah tanggung jawab masa depan Indonesia disematkan!


Dimuat di Harian Surya. Baca Ini link-nya !
Tulisan ini dibuat saat saya mengikuti workshop Pers Kampus sebagai Fellowship Sejuk 2014

Selasa, 30 Juni 2015

Tak Sekadar Menjadi Jurnalis


#Liputan Fendi Chovi

“Apakah kalian bekerja sebagai jurnalis hanya untuk mencari nafkah, karena mempertahankan hobi menulis atau memberikan nafkah anak dan istri. Pikirkan itu baik-baik.” Ungkap Miftah Faridl, wartawan Harian Pagi Surya saat membuka sekolah kaderisasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Surabaya. (14/06)

Sekitar sepuluh jurnalis muda dari berbagai media massa baik cetak dan online serta televisi mengikuti kegiatan sekolah kaderisasi ini. Peserta belajar tentang jurnalisme dan kode etik jurnalistik yang harus dimiliki para jurnalis ketika bekerja.

Miftah Faridl membuka kegiatan sekolah kaderisas Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dengan pernyataan-pertayaan menggugah seputar esensi bekerja dan menjalankan jurnalisme. “AJI berjuang menjaga Pers tetap berada pada ril-nya meski dengan perjuangan berdarah-darah,” tegasnya. 
 
Foto bersama Peserta Sekolah Kaderisasi AJI, Surabaya (2015)
“Kita berjuang untuk memberikan informasi yang benar. Itulah esensi kita berjurnalisme. Ungkap Donny Maulana Arief, saat mengisi materi mengenai jurnalisme.” Dony memberikan kesempatan kepada peserta untuk memberikan pernyataan tentang kebebasan pers dan diskusi berlanjut pada tantangan tentang masa depan Pers itu sendiri. Siapakah yang mengancam kebebasanPers di era saat ini?

Para peserta memberikan beberapa jawaban bahwa ancaman kebebasan Pers itu terletak pada pemerintah, pemilik media, mafia hingga organisasi kemasyarakatan maupun pemasang iklan yang ikutserta menintervensi para jurnalis memberikan informasi yang benar kepada publik.  Tugas jurnalis adalah menjadi pelayan untuk kepetingan bersama. Ungkap doni. 

Maksum, Dosen S-2 Universitas Airlangga, Surabaya dan mantan jurnalis Jawa Pos mengisi sesi Etika dan Kode Etik Jurnalistik. Maksum mewanti-wanti agar para jurnalis selalu check and ricek ketika sedang melakukan peliputan.

Selama satu hari, peserta menikmati pembelajaran seputar jurnalisme, kebebasan dan kode etik yang harus dimiliki oleh seorang jurnalis. Aliansi Jurnalis Independen pun mengakui tentang citizen reporter sebagai bagian dari kerja jurnalisme yang perlu dikembang di dalam kehidupan masyarakat.